KabarBaik.co — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pembahasan persiapan menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) telah mulai dilakukan. Namun hingga kini, waktu dan lokasi pelaksanaan muktamar belum ditetapkan.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
“Persiapan sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu, tetapi penanggalan dan tempat pelaksanaan belum ditentukan. Semuanya masih harus dimusyawarahkan,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya, Selasa (6/1)
Gus Yahya menjelaskan pembahasan muktamar masih berada pada tahap awal, terutama untuk menyamakan persepsi di antara seluruh elemen NU. Proses ini disebutnya sebagai bagian dari upaya islah dan penguatan organisasi.
Menurut Gus Yahya, minat daerah untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU cukup tinggi. Sejumlah wilayah telah menyatakan kesiapan, mulai dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, hingga Jawa Timur. Selain itu, beberapa pesantren besar juga menyampaikan harapan serupa.
“Banyak wilayah yang melamar, termasuk Jawa Timur. Bahkan pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo dan Ploso juga berharap bisa menjadi tuan rumah,” kata dia.
Terkait wacana percepatan pelaksanaan muktamar yang sebelumnya muncul dalam proses islah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Yahya menegaskan bahwa langkah tersebut harus ditempuh melalui dialog dan musyawarah yang matang.
“Harus dibicarakan di forum-forum musyawarah agar tidak ada lagi pertentangan. Semua perlu memahami bahwa muktamar itu penting bagi NU,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum strategis untuk memperkuat persatuan di tengah dinamika internal NU yang besar dan beragam.
“NU ini organisasi besar dengan jumlah warga yang sangat banyak. Perbedaan pendapat tidak bisa dihindari, tapi muktamar justru menjadi ruang untuk menyatukan kembali pandangan,” ungkap Gus Yahya.
Gus Yahya juga menanggapi isu penentuan waktu muktamar yang sempat dikaitkan dengan agenda nasional, seperti musim haji. Menurutnya, kepastian waktu sepenuhnya bergantung pada hasil pertemuan dan kesepakatan bersama.
“Soal kapan dilaksanakan, itu tergantung dari hasil pertemuan-pertemuan ke depan. Kita berharap semua pihak sepaham dan sepakat agar muktamar bisa segera dilaksanakan,” kata dia.
Sebelumnya, pertemuan antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama jajaran Syuriah PBNU dan Mustasyar PBNU, termasuk Ketua Umum PBNU Gus Yahya, digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan islah atau perdamaian antara pihak-pihak yang sebelumnya berselisih. Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib, mengatakan bahwa seluruh pihak sepakat mengedepankan persatuan demi keberlangsungan organisasi.
“Alhamdulillah, hasil pertemuan hari ini menyatakan bahwa kedua belah pihak telah menyepakati keputusan bersama,” ujar Abdul Mu’id.
Salah satu keputusan penting dalam pertemuan tersebut adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 NU dalam waktu secepat-cepatnya. Pelaksanaan muktamar diserahkan kepada PBNU, yakni Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. (*)






