KabarBaik.co- Kasus pembunuhan dan dugaan pemerkosaan dengan korban Siti Nurhalisa (SN), 19 tahun, hingga kini masih tersaput mendung. Mayatnya ditemukan bersimbah darah dengan keadaan setengah telanjang di area kebun Darupono, Kaliwungu, Kendal, pada Kamis (17/10) lalu. Hingga sekarang, polisi belum berhasil membekuk pelaku.
Peristiwa itu mendapat atensi luas dari publik. Terus menjadi perbincangan. Terutama di media sosial. SN disebut-sebut seorang santriwati penghafal Alquran (hafizah). Delapan tahun nyantri dj sebuah Pondok Pesantren yang ada di wilayah Ngampel, Kendal. Enam tahun belajar di bangka SMP dan SLTA. Dan, sejak 2022 lalu ikut mengabdi di pesantren.
Pembunuhan seorang santriwati tersebut sungguh memilukan. Mengaduk-aduk emosi masyarakat. Terlebih, entah kebetulan atau tidak, kejadiannya hanya berselang lima hari sebelum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2024, yang diperingati setiap 22 Oktober. Seolah menjadi salah satu pil pahit, dan mesti menjadi pelajaran semua pihak.
Aparat kepolisian mengaku terus melakukan penyelidikan perkara tersebut. Kabarnya, sudah ada nama yang dikantongi. Dengan bantuan teknologi seperti sekarang, mencari jejak identitas terduga pelaku itu sejatinya tidak sulit. Mulai pelacakan sidik jari hingga rekaman CCTV dari kawasan sekitar. Namun, untuk dapat menangkap pelaku memang tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, biasanya pelaku terus berupaya menyembunyikan diri.
Untuk memburu jejak pelaku, tidak hanya jajaran Polres Kendal. Tim dari Polda Jawa Tengah juga diterjunkan. “Begitu ada kasus-kasus menonjol, pasti kami akan backup penanganan untuk mengungkap kasus ini,” kata Direktur Reseres Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Dwi Subagio kepada awak media setempat di Semarang, Minggu (20/10).
Sebelumnya, warga setempat digegerkan dengan penemuan sesosok mayat perempuan di area perkebunan Desa Darupono, Kaliwungu Selatan, Kendal, Kamis (17/10). Kawasan itu berada pada jalan utama Kaliwungu-Boja. Suasana sekitar masih berupa hutan pohon jati. Area perkebunan cukup luas. Di sisi utara terdapat kandang ayam, sisi timur ada sawah, dan sisi selatan adalah ladang dan pagar bumi.
Di tempat kejadian perkara (TKP) berdasar video yang beredar, tampak sebuah gubuk kayu. Nah, di samping itulah mayat SN ditemukan. Jalan menuju lokasi ini berupa jalan setapak berbatu. Dari pusat Alun-alun Kaliwungu Kendal, jarak menuju lokasi sekitar 8 kilometer. Adapun dari perkampungan Desa Darupono, lokasi kejadian berjarak sekitar 1 kilometer.
Saat ditemukan warga, kondisi korban setengah telanjang. Bagian bawah tidak tertutup sehelai kain pun. Adapun bagian atas korban mengenakan jaket hitam. Terdapat luka di bagian leher dan kepala. Karena kondisi tersebut, kuat dugaan sebelum dihabisi, korban lebih dulu disetubuhi pelaku. Yang jelas, untuk memastikannya polisi telah melakukan otopsi.
SN merupakan warga Kecamatan Brangsong, Kendal. Jarak rumah korban dengan pesantren tempatnya tinggal sekitar 8 kilometer. Sebelum tragedi itu, SN sempat pulang pada Sabtu (12/10) untuk mengikuti haul sang kakek di rumahnya. Sehari kemudian atau Minggu (13/10), ayahnya mengantarkan SN balik ke pesantren.
Tak ada firasat apapun, sampai akhirnya polisi datang ke rumahnya dan memberi kabar duka tersebut. Tentu saja, pihak keluarga merasa sangat terpukul. Di mata keluarga, SN dikenal sebagai gadis yang cukup pendiam. Selama nyantri, ia tidak neko-neko. Lebih banyak menghabiskan waktun mengaji dan menghafalkan Alquran. Sejatinya, karena sudah berhasil menghafal Alquran, pihak keluarga akan menggelar bancakan atau tasyakuran pada November mendatang. Namun, takdir berkehendak lain. SN telah lebih dulu berpulang.
Terduga pelaku disebut-sebut sudah kenal dengan SN. Belum lama, SN sempat bercerita kepada keluarganya telah memiliki kenalan seorang lelaki. Usianya lebih tua. Perkenalan itu dari media sosial Instagram. Laki-laki yang tengah diburu polisi itu disebut berasal dari Kabupaten Pati.Kabarnya, pria misterius itu mengaku memiliki pesantren. Setelah perkenalan itu, keduanya intens berkomunikasi melalui handphone.
Dari obrolan yang beredar di medsos, sebelum kejadian SN didatangi seorang pria kenalannya ke pesantren di Ngampel tersebut. Lalu mengajaknya keluar. Alasanya, mengantarkan pulang ke rumah dengan alasan ayahnya sedang sakit. SN percaya. Padahal, orang tuanya sehat-sehat saja. Bisa jadi itu merupakan modus untuk dapat izin agar SN bisa keluar dari kompleks pesantren, lalu memuluskan niat jahatnya.
Entah betul atau tidak informasi tersebut, tentu menunggu keterangan resmi dari kepolisian setelah pelaku berhasil diringkus. Yang pasti, kemudian terjadilah petaka memilukan itu. (*)









