Penjelasan Gus Baha Soal Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar di Bulan Ramadan

oleh -66 Dilihat
GUS BAHA
KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha)

KabarBaik.co, Jakarta- KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran tidak hanya boleh dilakukan pada malam 17 Ramadan saja. Namun, boleh dilakukan di hari lain dalam bulan Ramadan.

Malam Nuzulul Quran adalah malam mulia dari seribu bulan karena malam Nuzulul Quran juga dikaitkan dengan Lailatul Qadar.

“Kalau tradisi pesantren, sebuah tradisi yang mengilhami banyak tradisi di masyarakat, pada malam 17 Ramadan mulai banyak yang mengadakan Nuzul Quran, ada juga yang malam 21, 23, 25 dan 27 Ramadan,” jelasnya seperti dikutip dari akun Youtube Najwa Shihab, Jumat (7/4/2023).

Menurut Gus Baha, mayoritas ulama sepakat bahwa Alquran pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

اِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada 1000 bulan.” (QS Al-Qadr: 1-3).

Namun, pakar tafsir berbeda pendapat tentang permulaan turunnya Alquran, ada yang mengatakan Alquran turun mulai 17 Ramadan dan ada yang mengatakan mulai 24 Ramadan.

“Ada yang terlalu ekstrem mengatakan bahwa Lailatul Qadar itu tidak ada lagi. Karena Lailatul Qadar itu malam turunnya Alquran dan sekarang Alquran tidak turun lagi. Malah ngeri seperti itu, kacau,” tegas Gus Baha.

Gus Baha lebih memilih pendapat ulama Nusantara yang tetap merayakan malam Nuzulul Quran dan berkeyakinan bahwa Alquran diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Namun, untuk waktu tertentu kapan merayakannya dikembalikan ke keyakinan masing-masing.

Bahkan jika memulai merayakan malam Nuzulul Quran dari awal Ramadan dengan cara mencari Lailatul Qadar sejak awal Ramadan juga boleh.

Teks tentang Lailatul Qadar disampaikan Nabi lewat hadis sahih dan nabi benar-benar mengatakan bahwa carilah malam lailatul qadar di malam akhir Ramadan. Yang namanya mencari, itu harus ada persiapan. Tidak ada persiapan lalu merasa mencari malam Lailatul Qadar. Ini namanya penunggu malam Lailatul Qadar, bukan pencari, kata Gus Baha.

“Bagi yang meyakini malam Lailatul Qadar di malam 20 Ramadan ke atas, maka persiapannya bisa sejak awal Ramadan atau sejak bulan Rajab,” ucap kiai asal Rembang ini.

Menurut Gus Baha, istilah Nuzulul Quran itu ada beberapa redaksi kata. Aslinya boleh menggunakan redaksi malam tanzilul Quran atau Nuzulul Quran. Sehingga sama saja, malam Tanzil Quran sebagai malam Nuzulul Quran. Keduanya sah untuk menyebut malam yang istimewa dalam bulan Ramadan ini.

Mufasir berpendapat bahwa anzala itu turun dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, kalau tanzil itu turun dari langit dunia ke Nabi Muhammad secara bertahap. Namun, yang pas itu malam tanzilul Quran atau malam inzalul Quran. Ulama memilih Nuzulul Quran agar masyarakat tidak salah paham. Karena redaksi inzal umumnya berkaitan dengan mandi junub.

“Kiai itu pintar, meskipun Lailatul Qadar hanya ada sehari, tapi kebaikan tidak boleh terbatas pada hari tertentu saja. Sehingga malam Lailatul Qadar bukan hanya malam 27 Ramadan,” jelas Gus Baha.

Gus Baha Cerita Tentang Keistimewaan Alquran

Dalam sebuah kesempatan lain, Gus Baha menyampaikan bahwa dirinya memiliki sebuah hadis yang sangat disukai hingga dijadikan pegangan hidup. Karena sering membacanya, Gus Baha pun hafal dengan sempurna. Dari keberkahan menghafal itulah, keyakinannya terhadap kebenaran dan kemuliaan isi hadis tersebut semakin bertambah.

Hadis yang dimaksud berbunyi:

مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ

Artinya:
“Barang siapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku sehingga lupa memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” (HR. Tirmidzi)

Gus Baha memaknai hadis ini dengan menjelaskan: “Orang yang sibuk membaca Alquran sampai lupa berdoa, akan diberikan oleh Allah sesuatu yang lebih baik daripada apa yang diminta oleh orang-orang yang berdoa. Karena tawassulnya langsung melalui Kitabullah, yaitu Alquran.”

Gus Baha menambahkan, “Itulah sebabnya saya jarang berdoa panjang-panjang. Kalau ingin berdoa, saya cukup membaca Alquran. Orang yang berdoa dengan Alquran akan mendapatkan sesuatu yang melebihi permintaan orang-orang yang berdoa secara biasa. Saya sangat meyakini hal ini. Hadis ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.”

Gus Baha juga membagikan pengalaman pribadinya saat berziarah ke makam Khalilurrahman, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Di sana, Gus Baha memilih berdoa dengan membaca Surat Ibrahim. Ketika temannya mempertanyakan metode itu, Gus Baha menasihati, “Sudahlah, baca saja Surat Ibrahim.”

Namun temannya tetap berdoa seperti biasa. Beberapa waktu kemudian, Gus Baha mendapat telepon dari pihak travel: “Gus, ada perjalanan ke Palestina lagi. Apakah njenengan berkenan ikut?”

Gus Baha pun menjawab, “Ya, saya ikut.” Sementara temannya tidak mendapat kabar apa pun. Gus Baha tertawa, disambut riuh hadirin. Gus Baha menutup kisahnya itu dengan pesan: “Saya ceritakan ini kepada kalian semua demi Haul Mbah Sahal. Pokoknya jalani saja,” pungkasnya (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.