KabarBaik.co, Gresik – Kesempatan tampil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi pencapaian yang tak diraih dalam semalam oleh Nusa Octave Orchestra SMA NU 1 Gresik.
Di balik penampilan pada berbagai panggung bergengsi itu, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari mengenalkan alat musik orkestra dan mengajarkan siswa membaca notasi balok.
Kini, kelompok orkestra pelajar tersebut dikenal sebagai salah satu penampil yang kerap dipercaya mengisi berbagai agenda penting. Mereka bahkan pernah tampil di Gedung Negara Grahadi dan berkolaborasi dengan musisi nasional, seperti Nyi Tjondrolukito Utami dan Yuni Shara.
Pelatih Nusa Octave Orchestra, Dirgo Roslukita, mengatakan, proses membangun orkestra sekolah tidak pernah mudah. Ia mulai bergabung sebagai asisten pelatih pada 2015 sebelum dipercaya menjadi pelatih utama sejak 2020.
“Perjalanannya tidak mudah. Di awal kami harus mengenalkan dulu instrumen musik barat kepada siswa, termasuk cara membaca notasi balok. Semua membutuhkan proses, disiplin, dan ketekunan,” ungkapnya.
Dirgo menjelaskan, Nusa Octave Orchestra berdiri sejak 2010 dan kini memasuki generasi ke-16. Dari yang semula hanya beranggotakan sekitar 10 siswa, kini peserta ekstrakurikuler orkestra mencapai 100 hingga 250 siswa.
Menurut dia, penggunaan instrumen musik barat dipilih karena memiliki standar internasional sekaligus mampu membentuk karakter, kedisiplinan, dan konsistensi para siswa selama menjalani latihan.
Kemampuan memainkan alat musik seperti biola, trompet, trombon, hingga flute, kata Dirgo, tidak bisa diperoleh secara instan. Seluruh anggota harus menjalani latihan rutin dan konsisten agar kemampuan mereka terus terjaga.
“Untuk bisa menghasilkan suara saja butuh waktu lama. Belum lagi menjaga nada tetap pas. Pemain alat musik tiup juga harus melatih napas terus-menerus. Kalau dua hari tidak latihan, biasanya sudah mulai terasa menurun,” terangnya.
Lulusan SMK Negeri 12 Surabaya jurusan musik yang kemudian melanjutkan pendidikan di Program Studi Seni Musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu bersyukur karena fasilitas yang dimiliki Nusa Octave Orchestra kini jauh lebih lengkap dibandingkan saat awal pembinaan.
“Jika dahulu peralatan musik masih sangat terbatas, kini mereka memiliki beragam instrumen orkestra, meski biaya pengadaan dan perawatannya cukup besar. Harga satu alatnya berkisar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta, belum biaya perawatan,” ungkapnya.
Menurut Dirgo, keberhasilan menembus panggung-panggung prestisius merupakan buah dari proses latihan yang dilakukan secara konsisten dua kali setiap pekan dengan durasi lebih dari dua jam.
“Kita latihan rutin dua kali dalam sepekan dengan durasi lebih dari dua jam,” tuturnya.
Regenerasi juga menjadi kunci keberlangsungan Nusa Octave Orchestra. Para alumni tetap aktif mendampingi adik kelas, berbagi pengalaman, hingga membantu proses pembinaan agar kualitas orkestra tetap terjaga.
“Ekstrakurikuler ini bukan sekadar tempat belajar musik, tetapi sudah menjadi keluarga. Alumni masih sering datang untuk berbagi ilmu dan membantu proses regenerasi,” pungkasnya.
Perjalanan panjang itulah yang kemudian mengantarkan Nusa Octave Orchestra dipercaya tampil dalam berbagai agenda bergengsi, termasuk pada malam penganugerahan Giri Pancasuar Award 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gresik di Hotel Aston Gresik, Rabu (5/8).
Dalam acara tersebut, harmonisasi musik yang dibawakan para pelajar SMA NU 1 Gresik berhasil memukau ratusan tamu undangan dan menjadi salah satu suguhan pembuka pada malam apresiasi bagi tokoh-tokoh inspiratif di Kabupaten Gresik.(*)







