KabarBaik.co – Kamis (15/1) pagi, rel kereta api di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, masih diselimuti kabut tipis. Deru (Kereta Api) KA Gumarang yang melintas pukul 06.13 WIB memecah keheningan. Namun, tak lama kemudian, ketenangan pagi berubah menjadi duka.
Tubuh seorang pemuda tergeletak tak bernyawa di sisi rel, tersambar kereta yang melaju dengan kencang. Pemuda itu bernama Indra Saputra (29), perantau asal Desa Gunung Megang, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Jauh dari kampung halaman, Indra datang ke Bojonegoro dengan satu tujuan yang sederhana namun berat, yakni mengejar cinta seorang janda. Warga sekitar menjadi saksi bisu akhir perjalanan Indra. Tamrin, salah satu warga Desa Talok, mengaku tak melihat secara jelas detik-detik kejadian.
Dari kejauhan, ia hanya melihat sesuatu seperti terlempar dari arah rel sesaat setelah kereta melintas. “Saya cuma lihat seperti ada yang terbang jatuh pas kereta lewat. Setelah itu baru sadar ternyata ada orang tertabrak kereta api,” ujar Tamrin.
Selama beberapa waktu terakhir, sosok Indra bukanlah orang asing bagi warga setempat. Supardi, mantan Kepala Desa Talok, menyebut Indra kerap terlihat berjalan kaki menyusuri pinggiran rel kereta api, mondar-mandir dari Kalitidu ke Talok. Tanpa kendaraan, tanpa pekerjaan tetap, dan tanpa tempat tinggal yang pasti.
“Ia sering terlihat jalan kaki di pinggir rel. Tidak punya kendaraan. Kadang tidur di teras warung dekat sini,” kata Supardi.
Warga bahkan sempat merasa iba. Indra pernah ditawari pekerjaan agar bisa memiliki penghasilan dan kembali ke kampung halamannya. Namun ajakan itu tak pernah benar-benar ia sambut. Ada alasan yang membuatnya bertahan.
Menurut cerita yang beredar di kalangan warga, Indra sedang memperjuangkan hati seorang janda dari desa tetangga. Cinta yang ia kejar rupanya tak berbalas, namun ia cukup kuat untuk membuatnya bertahan hidup serba kekurangan, dan jauh dari keluarga. “Katanya dia lagi mengejar cinta, tapi tidak berhasil,” tutur Supardi.
Di balik pakaian sederhana yang dikenakan berupa jaket hoodie cokelat dan celana hitam, Indra menyimpan kisah hidup yang sunyi. Saat ditemukan, tak ada kartu identitas di tubuhnya. Polisi hanya menemukan sebuah telepon genggam dengan foto seorang perempuan di bagian belakangnya yang diduga adalah foto perempuan yang sedang ia kejar, serta uang tunai Rp 22 ribu. Barang-barang itu seolah menjadi saksi bisu atas harapan yang tak pernah sampai tujuan.
Kapolsek Kalitidu, AKP Saefudinuri, membenarkan peristiwa kecelakaan tersebut. Ia mengatakan tidak ada saksi yang melihat langsung proses korban tertabrak kereta api. “Korban tidak membawa identitas. Setelah olah TKP, jenazah dibawa ke RSUD Sosodoro Djatikoesomo untuk dilakukan proses identifikasi,” jelas AKP Udin, sapaan akrabnya.
Melalui identifikasi sidik jari, polisi akhirnya mengetahui identitas korban. Indra Saputra, lahir pada 25 November 1997. Seorang anak muda yang merantau membawa harapan, namun pulang hanya tinggal nama.
Hingga kini, pihak kepolisian masih berupaya menghubungi keluarga korban di Sumatera Selatan. Jenazah Indra masih berada di RSUD Bojonegoro, menunggu keluarga yang mungkin tak pernah menyangka, bahwa perjuangan cinta anak mereka akan berakhir di rel kereta api yang ratusan kilometer dari rumahnya. (*)







