KabarBaik.co- Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) bergemuruh Sabtu sore (10/1) saat Persebaya Surabaya menaklukkan Malut United. Skor tipis 2‑1 dalam laga pekan ke‑17 Super League 2025/2026. Ribuan suporter yang memadati tribun memberikan semangat penuh sejak menit pertama. Namun, di balik sorak kemenangan itu tersimpan realitas keras. Perjalanan Persebaya menuju puncak klasemen masih penuh tekanan dan belum sepenuhnya aman.
Kemenangan itu memang kembali mengangkat Persebaya ke posisi keenam klasemen sementara dengan 28 poin. Namun, jarak yang tipis dengan tim di bawahnya membuat Green Force terus was‑was. Mereka tertinggal enam poin dari Malut United di posisi empat, hanya unggul satu poin dari PSIM Yogyakarta dan Bali United yang sama‑sama mengoleksi 27 poin.
Dengan selisih poin yang rapat, setiap laga ke depan menjadi sangat krusial. Jika malam ini (10/1) Madura United kalah dari PSIM, maka Persebaya bisa kembali turun peringkat. Sebaliknya, kemenangan Madura United memastikan posisi sementara Persebaya tetap aman, tetapi tidak memberi jaminan stabil untuk pekan berikutnya.
Yang jelas, strategi klub dalam merespons persaingan papan atas begitu menentukan. Persebaya baru saja menambah kedalaman skuad dengan kedatangan tiga pemain baru. Yakni, penyerang Bruno Paraiba, bek kiri Jefferson Silva, dan bek tengah jangkung Gustavo Fernandes. Kedatangan mereka diharapkan menambah daya gedor dan kekokohan lini pertahanan tim di putaran kedua kompetisi. Kehadiran trio Brasil ini juga menjadi sinyal ambisi Persebaya untuk tetap bersaing di papan atas, meski tentu adaptasi dan integrasi tak bisa dilakukan secara instan.
Laga melawan Malut United sendiri menegaskan karakter tim. Persebaya tampil ngosek sejak awal, memaksa lawan bermain dengan intensitas tinggi, dan berhasil mencetak gol cepat. Tekanan dari Malut United di babak kedua sempat membuat jantung Bonek berdebar, tetapi ketangguhan dan disiplin lini pertahanan menjaga keunggulan hingga peluit akhir. Sorak-sorai dan semangat yang mengalir dari tribun menambah energi tambahan bagi para pemain, meski tekanan papan atas tetap terasa.
Di luar lapangan, manajemen juga harus berpikir panjang. Persaingan di papan atas Super League 2025/2026 begitu rapat. Persebaya hanya unggul tipis atas PSIM Yogyakarta dan Bali United, sementara Persita Tangerang mengintai di posisi lima.
Duel klasik antara Persija Jakarta vs Persib Bandung Minggu (11/1), di mana kedua tim sama-sama mengoleksi 35 poin, berpotensi mengubah peta klasemen secara dramatis. Persebaya tentu berharap Persija vs Persib itu berjalan imbang. Dengan begitu, jarak di posisi elite makin menipis, memberi peluang lebih besar bagi Green Force untuk naik tanpa tekanan langsung dari puncak klasemen.
Jika salah satu tim tersebut menang, mereka bisa langsung menggeser Borneo FC dan menjadi juara paruh musim. Situasi ini tentu menambah tekanan bagi tim-tim di bawahnya termasuk Persebaya.
Bagi Persebaya, kemenangan atas Malut United adalah modal penting untuk menjaga tren positif. Tapi, sekali lagi, dalam persaingan yang sangat ketat, setiap poin, setiap gol, dan kontribusi pemain anyar seperti Bruno, Jefferson, dan Gustavo akan sangat berarti.
Momentum kemenangan ini harus dijaga agar peluang menyalip tim-tim besar tetap hidup. Persebaya tahu bahwa perjalanan menuju puncak masih panjang, penuh tekanan, dan membutuhkan konsistensi tinggi. Tidak seperti Drachin yang bisa ditebak, setiap pekan ke depan adalah gelap. Yang pasti, di tangan Bernardo Tavares, harus membuktikan bahwa Green Force siap menantang dominasi tim-tim besar. Menjaga asa juara tetap terbuka, walaupun mungkin setipis tisu. Wani! (*)








