KabarBaik.co- Selain PSM, Persebaya Surabaya kini menyandang predikat kurang menguntungkan di BRI Super League 2025/2026: Raja Seri alias Pendekar Remis. Laga klasik kontra PSM Makassar yang berakhir imbang 1-1 pada Sabtu (6/12) malam, mengukuhkan kedua tim sebagai kolektor hasil seri terbanyak di liga.
Hasil tersebut membuat Green Force terperangkap di papan tengah. Peringkat 9 dengan 18 poin dari 13 laga. Posisi ini mengkhawatirkan. Sebab, sejatinya di depan telah menanti sebuah takdir sejarah. Yakni, Kado Juara Super League 2026/2027 untuk perayaan 100 Tahun atau Satu Abad Persebaya pada 18 Juni 2027.
Namun, saat ini, badai hasil imbang seolah menahan laju kapal Persebaya. Dari enam kali berbagi angka, empat di antaranya berakhir dengan skor identik 1-1 secara beruntun. Enam hasil seri ini (termasuk 0-0 vs Persis Solo dan 2-2 vs Dewa United) menghilangkan 12 poin krusial.
Kenyataan itu bukan hanya masalah eksekusi, melainkan krisis dalam disiplin taktis dan mentalitas ‘pembunuh’ (killer instinct) yang hanya bisa ditanamkan oleh arsitek permanen kelas dunia. Mengandalkan sosok caretaker seperti Uston Nawawi, walaupun sebuah janji yang menjaga harapan Bonek tetap membara. Namun, anak tangga itu mustahil didaki tanpa arsitek yang tepat.
Untuk dapat merealisasikan Kado Satu Abad yang sempurna pada Juni 2027, Persebaya harus segera menyusun cetak biru strategis dengan menempatkan pemilihan pelatih permanen kelas dunia sebagai prioritas utama dan pertama. Berikut antara lain yang mesti segera dilakukan Persebaya:
Pertama, Penunjukkan Arsitek Top Dunia (The Blueprint Starter): Manajemen Persebaya harus mengumumkan penunjukan pelatih kepala yang memiliki rekam jejak mentereng, mampu melakukan revolusi taktis, dan memiliki otoritas penuh.
Pelatih harus diberi kontrak minimal dua setengah tahun, agar memiliki waktu untuk merombak skuad di musim 2025/2026 dan mencapai puncak performa di musim 2026/2027. Investasi pada pelatih adalah investasi pada filosofi klub jangka panjang. Tanpa arsitek berkelas, dana besar untuk pemain bintang hanya akan menjadi pemborosan sia-sia.
Kedua, Peningkatan Kualitas Pemain dan Mentalitas: Pelatih baru kemudian harus menuntut investasi pada striker asing dan lokal yang yang terbukti memiliki mentalitas juara dan mampu mengubah 1-1 menjadi 2-1. Bersamaan dengan itu, stabilitas lini tengah harus diperkuat dengan gelandang jangkar kelas wahid.
Ketiga, Komitmen Jangka Panjang dan Fasilitas: Untuk memastikan proyek ini berhasil, Persebaya harus menjamin stabilitas finansial dan fasilitas. Kado Satu Abad adalah proyek ambisius; Persebaya tidak boleh goyah sedikitpun dalam dukungan logistiknya, karena kejuaraan di Tahun Emas 2027 adalah penahbisan kembali status mereka sebagai Raksasa sepak bola nasional.
Persebaya harus segera melepaskan jangkar Badai Raja Seri. Green Force harus menyadari bahwa musim ini adalah ujian manajerial dan taktis yang menentukan. Hanya dengan arsitek top, strategi yang matang, dan dukungan Bonek yang menggelora, Persebaya bisa menulis babak terindah dalam seratus tahun sejarah mereka.
Menanti Titik Balik
Meskipun situasi saat ini tampak rapuh, masa depan masih ada. Khususnya melihat sisa empat laga pada paruh musim ini yang dapat menjadi titik balik jika dimanfaatkan dengan benar. Menurut jadwal resmi, empat laga berikut bagi Persebaya adalah melawan: Borneo FC Samarinda (home), kemudian Persijap Jepara (home), dilanjutkan tandang ke Madura United, dan menjamu Malut United FC.
Keempat laga ini, jika dijalani dengan determinasi tinggi, bisa menjadi landasan penyeimbang untuk memangkas jarak poin ke zona atas, membangun percaya diri, dan sekaligus menegaskan bahwa Persebaya tidak ingin berakhir sebagai “klub pengejar hasil seri”.
Tentu, tantangannya besar. Karena enam hasil imbang sejauh ini bisa menjadi jebakan mental. Nyaman dengan satu poin, tak punya naluri menyudahi pertandingan. Lawan-lawan berikutnya, Borneo, Persijap, Madura, Malut, bukan tim sembarangan. Borneo Samarinda misalnya, tengah berjaya di puncak klasemen.
Karena itu, tidak cukup hanya berharap. Untuk bisa bangkit dan mengambil alih kendali, Persebaya perlu evaluasi mendalam. Baik dari sisi taktik, karakter pemain, maupun mental. Keputusan manajemen, komposisi pemain, dan pendekatan pelatih harus memprioritaskan perubahan filosofi permainan: dari sekadar “menyelesaikan laga” menjadi “menguasai laga dan menyudahi laga”.
Pelajaran pentingnya, hasil imbang bukan hanya soal angka. Tapi, cermin kelemahan struktural. Apabila dibiarkan berulang, bukan tidak mungkin rangkaian seri demi seri akan memupus harapan juara, bahkan harapan finis tinggi.
Sisa empat laga ini bisa jadi penentu. Apakah Persebaya menunjukkan karakter juara, atau tetap terjebak dalam mental “amatir yang puas seri”. Jika gagal memanfaatkan, ambisi menyongsong ulang tahun ke-100 dengan medali bergengsi bisa tetap jadi impian pahit.
Di atas kertas, kesempatan masih terbuka. Tapi seperti kapal besar di lautan bergelombang, tanpa kemudi kuat dan layar tidak kokoh, badai hasil imbang berpotensi menenggelamkan harapan. Kini tersisa empat percobaan, empat kesempatan untuk membalikkan arah, menyalakan kembali harapan, dan membuktikan bahwa Persebaya bukan sekadar tim legenda yang merajut nostalgia, melainkan tim besar yang pantas diperhitungkan.
Persebaya harus menunjukkan bahwa musim ini bukan tentang bertahan di zona aman, melainkan berani melangkah ke depan. Merebut kemenangan, memikul ambisi, dan menyiapkan pijakan sekuat baja untuk proyek satu abad mereka. Wani! (*)







