KabarBaik.co, Surabaya, – Malam ini, 1 Februari 2026, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) bakal jadi saksi pembuktian revolusi besar Persebaya Surabaya. Laga pekan ke-19 Super League melawan Dewa United bukan cuma pertarungan poin. Tapi, duel filosofi: gaya pragmatis-mematikan ala Bernardo Tavares vs possession-based Dewa United.
Laga kali ini juga misi balas dendam atas trauma kekalahan 2-0 terakhir dari Banten Warriors, dan bukti kalau Bajul Ijo sudah berevolusi jauh dari era sebelumnya. Dari lima kali duel, Green Force tidak pernah menang.
Kekalahan telak 2-0 terakhir Persebaya dari Dewa United terjadi 21 Februari 2025 di Stadion Pakansari, Bogor. Saat itu, di bawah pelatih Belanda Paul Munster, Bajul Ijo bermain dengan intensitas tinggi dan attacking-minded modern (4-3-3 defending), tapi gagal adaptasi lawan serangan balik klinis Dewa United. Gol Alexis Messidoro (30′) dan Alex Martins (37′) mematikan harapan, meski Munster bilang timnya punya banyak peluang. Gaya Munster bagus buat transformasi fisik dan semangat, tapi kurang fleksibel di momen krusial. Akhirnya jadi salah satu pemicu perubahan pelatih.
Masuk musim 2025/2026, Eduardo Perez membawa filosofi Spanyol. Penguasaan bola tinggi, build-up pendek, dan permainan halus. Hasilnya di leg pertama (26 September 2025) di Banten International Stadium: imbang 1-1 meski Persebaya dominan penguasaan dan peluang. Gol Septian Bagaskara (69′) unggulkan Dewa United, tapi Bruno Moreira selamatkan lewat penalti injury time (90+7′), bahkan saat main 10 pemain setelah kartu merah untuk Dejan Tumbas. Terasa seperti kegagalan moral, terlalu asyik oper bola tanpa daya dobrak tajam, rentan serangan balik. Lalu, Perez dipecat November 2025, dan jadi pelajaran besar. Possession indah tidak cukup tanpa efisiensi.
Sejak ditunjuk Desember 2025 dan debut manis Januari 2026 (menang 2-1 atas Malut United), Bernardo Tavares langsung rombak total. Gaya Portugal-nya, defensive solid, transisi cepat, vertikal, kuat duel udara, dan oportunis counter-attack. Dia membawa kuartet game changer asing yang pas. Jefferson Silva (bek kiri Brasil), menutup rapat flank yang dulu bocor. Bruno Paraíba (striker Brasil), fisik monster di kotak penalti. Pedro Matos (winger Portugal), kecepatan buat serangan balik kilat. Dan, Gustavo Fernandez (penyerang Brasil), target man haus gol, fleksibel duo striker.
Kini, Persebaya berubah dari tim “aman” Munster atau “halus” Perez jadi mesin efisien. Saat lawan Dewa United, misinya mematikan suplai lawan dengan target Alex Martins, memaksa umpan lambung, lalu sapu bersih dan pukul balik. Tavares juga master narasi, lindungi tim, kritik sistem, dan membangun aura juara.
Saat ini, klasemen Dewa United sekarang peringkat 10, Persebaya posisi 6 dengan tren naik. Empat kemenangan beruntun sebelumnya. Dengan dukungan penuh Bonek yang legendaris, target malam ini jelas. Kemenangan meyakinkan untuk akhiri kutukan tidak pernah menang lawan Dewa United sejak 2023, balas dendam 2-0 era Munster, dan bukti kalau transformasi telah berjalan. Gol cepat mesti bisa jadi pemicu runtuhnya perlawanan tamu. Atmosfer GBT malam ini bakal berubah jadi neraka buat Dewa United. Waktunya Bajul Ijo unjik gaya kebangkitan ngeyel ala Tavares jauh lebih unggul.
Sementara itu, Pelatih Kepala Dewa United, Jan Olde Riekerink, menilai Persebaya sebagai lawan yang sedang berada di level terbaiknya. “Saya pikir ketika Anda melawan Persebaya, terutama di momen ini, mereka memiliki hasil yang sangat bagus dalam beberapa laga terakhir. Mereka tidak terkalahkan dan saya rasa dalam empat pertandingan terakhir mereka selalu menang,” ujar Jan Olde dikutip dari laman resmi Dewa United.
Namun, di balik tantangan besar itu, Jan Olde melihat pertandingan ini sebagai kesempatan untuk mengukur sejauh mana Dewa United berkembang sebagai sebuah tim. Menurut pelatih asal Belanda tersebut, Dewa United kini berada dalam fase yang lebih stabil dibandingkan saat awal proses pembentukan tim beberapa tahun lalu.
“Bagi kami, ini akan menjadi pertandingan yang sulit. Namun setidaknya kami tahu siapa diri kami sesungguhnya. Saya pikir kami sudah bermain lebih baik dibandingkan saat kami memulainya. Proses ini membutuhkan waktu, setidaknya dalam tiga tahun terakhir,” lanjutnya.
Jan Olde juga menekankan bahwa konsistensi dalam membangun cara bermain menjadi kunci utama perkembangan Dewa United. Ia menyebut timnya mulai menemukan pola permainan yang sesuai dengan filosofi yang diinginkan.
“Secara perlahan kami bisa bermain dengan identitas kami. Ada banyak cara untuk bermain sepak bola. Anda bisa membangun serangan dari kiper, atau langsung mengirim umpan panjang ke depan. Namun kami ingin mencoba memainkan sepak bola yang terkadang membutuhkan waktu lebih, dengan proses yang jelas,” jelasnya. (“)






