KabarBaik.co – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2024 tercatat sebesar 4,93 persen, sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 5 persen. Meski demikian, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan tetap menjadi pendorong utama dengan kenaikan 9,50 persen dalam kategori produksi.
Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,49 persen.
“Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur memang sedikit lebih rendah. Namun, stabilitas tetap terjaga berkat kontribusi kuat dari sektor transportasi dan konsumsi nonprofit,” ujar Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, pada Kamis (6/2).
Secara tahunan (y-on-y), perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,03 persen pada Triwulan IV-2024. Lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,39 persen. Pada komponen pengeluaran, PK-LNPRT kembali menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 9,53 persen.
Namun, jika dibandingkan secara triwulanan (q-to-q) dengan Triwulan III-2024, ekonomi Jawa Timur mengalami kontraksi 0,77 persen. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh faktor musiman, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat penurunan tajam sebesar 26,24 persen. Sektor lain seperti jasa keuangan (-2,35 persen), pengadaan listrik dan gas (-2,32 persen), serta jasa pendidikan (-0,23 persen) juga mengalami kontraksi.
“Kinerja triwulanan menunjukkan adanya dampak musiman, terutama pada sektor pertanian. Namun, sektor jasa lainnya tetap mencatat pertumbuhan,” jelas Zulkipli.
Lapangan usaha industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 31,29 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga (PK-RT) mendominasi dengan kontribusi 60,96 persen.
Meskipun pertumbuhan ekonomi mengalami sedikit perlambatan dibandingkan tahun 2023, sektor transportasi dan administrasi pemerintahan tetap menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Dengan prospek yang masih positif, sektor industri pengolahan diperkirakan akan terus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di masa mendatang. Namun, tantangan berupa perlambatan di sektor pertanian dan jasa keuangan perlu menjadi perhatian untuk menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan,” ungkap Zulkipli.
Dalam konteks nasional, ekonomi Pulau Jawa masih didominasi oleh DKI Jakarta dengan kontribusi 29,30 persen terhadap PDRB Pulau Jawa. Jawa Timur berada di peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 25,23 persen, diikuti Jawa Barat (22,49 persen), Jawa Tengah (14,48 persen), Banten (6,96 persen), dan DI Yogyakarta (1,54 persen).
Dengan kontribusi signifikan ini, Jawa Timur diharapkan dapat terus memperkuat sektor-sektor unggulannya sambil menghadapi tantangan perlambatan di beberapa sektor.(*)







