KabarBaik.co- Perwakilan alumni santri, belakangan juga telah mendatangi rumah produksi (PH) Shandika Widya Cinema (SWC) yang beralamat di Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur. Terungkap, PH inilah pemroduksi Xpose Uncensored tayang di Trans7, yang menuai kecaman meluas dari banyak pihak lantaran dianggap melecehkan ulama, kiai, santri, dan pesantren.
Audiensi perwakilan alumni santri dengan Rumah Produks SWC itu terungkap dalam unggahan akun TikTok @KangJamil126. Dalam pertemuan yang juga mendapat pengawalan sejumlah anggota kepolisian itu terungkap beberapa hal. Mulai dari kronologi tayangan hingga sosok perempuan pengisi suara (narator) Xpose Uncensored yang tayang pada 13 Oktober itu.
‘’Dampak (tayangan) luar biasa. Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. (Pesantren) bukan infotainment, ini lembaga pendidikan agama, kok dibuat guyonan, buat bercandaan, dibuat main-main. Ini serius. Menyangkut jutaan alumni pesantren, khususnya alumni Pesantren Lirboyo. Siapa yang punya ide? Siapa yang mengisi suara? Dari intonasi suaranya, itu sudah menghina,’’ungkap salah seorang perwakilan santri.
Sebelumnya, bos Rumah Produksi SWC itu adalah Henricus Herianto. Data itu terungkap dalam rapat gabungan antara DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdig), manajemen Trans7, dan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), pada Kamis (16/10). Dalam pertemuan itu, Dirut Trans7 Atiek Nur Wahyuni menyebut bahwa tayangan itu tidak diproduksi secara in-house oleh Trans7.
“Program Xpose Uncensored itu diproduksi oleh rumah produksi Shandika Widya Cinema, bukan oleh internal Trans7,” ujar Atiek di hadapan anggota dewan. yang juga ditayangkan banyak media itu.
Setelah mendapat data tersebut, publik melacak profil Shandika Widya Cinema (SWC) serta siapa Herianto, bos PH tersebut. Ternyata, SWC adalah rumah produksi yang berdiri sejak lama. Yakni, sejak 1995 silam. PH itu dipimpin oleh Henricus Herianto, yang disebut sebagai salah seorang anak dari almarhum Pollycarpus Swantoro. Selama ini, SWC dikenal sebagai salah satu PH produktif yang menelurkan banyak program hiburan populer di berbagai stasiun televisi swasta nasional.
Sementara itu, Direktur Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menilai bahwa kasus mendeskreditkan pesantren itu bukan sekadar kesalahan editorial. Namun, dia menyebut bagian dari skenario yang telah dirancang secara sistematis. ‘’Intelijen analisis kita harus dipakai. Bahwa, NU sejak dulu itu selalu menjadi target untuk diserang supaya NU-nya lumpuh, sehingga kemudian orang-orang yang berniat meruntuhkan negara (Indonesia) ini dapat dengan mudah,’’ ujar Islah, dikutip dari kanal YouTube TVNU, Jumat (17/10).
Islah menegaskan, pernyataan itu bukan berarti dirinya terlalu fanatik pada NU, melainkan mengacu fakta sejarah.. ‘’Nah, menjadi orang NU memang hari-hari ini mesti siap ’’bertempur’’ dalam konteks verbal maupun tekstual. Serangan terhadap pesantren ini dalam rangka melemahkan NU, karena mereka tahu kekuatan NU ada di para kiai, seluruh pesantren yang ada di pelosok-pelosok,’’ ungkapnya. (*)






