SEA Games 2025 di Thailand resmi berakhir. Riuh sorak, adrenalin, dan ketegangan perebutan medali kini tinggal kenangan. Layaknya sebuah pesta, ketika musik berhenti, para tamu pun harus pulang. Namun, pulang dari pesta olahraga terbesar Asia Tenggara ini, kontingen Indonesia membawa kebanggaan besar.
Indonesia menorehkan prestasi gemilang dengan total 333 medali: 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu. Merah Putih finis di posisi kedua klasemen, tepat di bawah tuan rumah Thailand yang mengoleksi 233 emas dan total 495 medali, serta mengungguli Vietnam yang harus puas di peringkat ketiga. Capaian ini bukan prestasi biasa. Perolehan 91 emas melampaui target 80 emas yang dicanangkan, sekaligus menjadi raihan emas terbanyak sejak 1997 di luar status tuan rumah. Dominasi Vietnam yang selama ini nyaman di posisi runner-up pun berhasil digeser.
Kebanggaan itu wajar. Presiden Prabowo Subianto pun menyampaikan apresiasi, dan senyum para atlet—terutama peraih emas—menjadi simbol keberhasilan kerja keras bertahun-tahun. Pemerintah menjanjikan bonus Rp 1 miliar untuk setiap medali emas, yang berarti Rp 91 miliar dikucurkan khusus bagi peraih emas. Belum termasuk bonus untuk peraih perak dan perunggu. Ini patut diapresiasi sebagai wujud nyata komitmen negara terhadap atlet berprestasi.
Namun, bonus tidak boleh berhenti dimaknai sebagai hadiah semata. Ia adalah pesan bahwa masa depan atlet yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri di dunia olahraga bisa cerah. Lebih jauh, bonus itu seharusnya menjadi pemantik bagi generasi muda agar tak ragu memilih jalan sebagai pahlawan olahraga bangsa.
Di sisi lain, para atlet juga dituntut bijak. Umur emas atlet tidak panjang. Sejarah telah berkali-kali menunjukkan, tak sedikit mantan atlet hebat yang akhirnya menjalani hari tua dalam kesulitan karena gagal mengelola hasil jerih payahnya. Bonus harus dipandang sebagai investasi masa depan—untuk pendidikan, usaha, dan jaminan hidup setelah karier berakhir—bukan sekadar euforia sesaat yang habis dalam foya-foya.
Karena itu pula, euforia SEA Games tidak boleh berlarut-larut. Tantangan yang lebih besar sudah menanti. Kejuaraan dunia antarcabang, ajang multi-event tingkat Asia, hingga Olimpiade menuntut kesiapan yang jauh lebih serius. SEA Games 2027 di Malaysia pun sudah di depan mata. Memasuki 2026, waktu persiapan sejatinya tidak panjang.
Dengan jumlah penduduk mendekati 300 juta jiwa dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia seharusnya mampu bersuara lebih lantang di panggung olahraga dunia. Potensi atlet tak pernah menjadi masalah. Yang kerap menjadi penghambat adalah konsistensi pembinaan, manajemen yang lemah, serta praktik-praktik yang mencederai integritas.
Prestasi SEA Games 2025 harus dijadikan momentum, bukan sekadar catatan manis dalam arsip sejarah. Pembinaan olahraga mesti dilakukan secara berkelanjutan, profesional, dan bersih dari kolusi serta korupsi. Hanya dengan komitmen yang sungguh-sungguh dan tata kelola yang berintegritas, Indonesia dapat terus memperbanyak keping medali—bukan hanya di Asia Tenggara, tetapi juga di panggung dunia.
Pesta telah usai. Kini saatnya bekerja lebih keras lagi. (*)







