KabarBaik.co- Kota Mojokerto, Jatim, tengah berkabung. Empat pelajar SMPN 7 Mojokerto meninggal dunia. Tergulung ombak Pantai Drini, Gunung Kidul, Jogjakarta, ketika mengikuti outing atau study tour, Selasa (28/1). Sebelumnya, ada belasan siswa yang juga sempat terseret ombak itu. Namun, mereka terselamatkan.
Dari penelusuran KabarBaik.co, tragedi di Pantai Drini sudah beberapa kali terjadi, sebelum merenggut nyawa pelajar SMPN 7 Mojokerto tersebut. Pada 3 Juli 2022, misalnya. Dua anggota rombongan dari Sukoharjo, Jateng, juga tengah berlibur di Pantai Drini juga menjadi korban. Salah seorang di antaranya adalah Rini Hastuti, 40. Ceritanya, seampai di tepi pantai, ia berswafoto membelakangi laut.
Tanpa diduga, datang gelombang tinggi kemudian menghempas korban hingga terseret ke tengah laut. Melihat kejadian tersebut, kerabat korban, Fajar Budi Prakoso, berusaha memberikan pertolongan. Nahas, pemuda 25 tahun itu justru turut terseret dan hilang tenggelam. Dua korban itu ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Pada 18 November 2021, Pantai Drini juga nyaris memakan korban. Tiga remaja asal Kabupaten Klaten, Jateng, terseret dan tergulung ombak. Beruntung berkat kesigapan para petugas SAR, tiga orang wisatawan tersebut berhasil diselamatkan, meski dalam kondisi pingsan. Kejadian bermula ketika rombongan datang pada Minggu siang. Mereka lantas bermain air di tepi pantai. Sejurus kemudian, datang gelombang besar yang langsung menyeretnya salah seorang ke tengah lautan. Melihat itu, dua orang temannya yang masih berusia 17 tahun berupaya menolong. Namun, kemudian ikut terseret. Ketiganya langsung diselamatkan tim SAR.
Pada 2020, tepatnya pada Agustus 2020, juga terjadi tragedi serupa. Korbannya adalah rombongan wisatawan dari Tempel, Kecamatan Ngentak, Kabupaten Sleman, Jateng. Tujuh korban dilaporkan meninggal dunia. Bahkan, beberapa di antara korbannya adalah anak-anak yang saat itu masih berusia 4 tahun dan 8 tahun.
Selain data-data tersebut, boleh jadi sebelumnya juga terjadi tragedi serupa. Yang jelas, Pantai Drini belakangan memang menjadi salah satu destinasi wisata cukup favorit di wilayah Jogjakarta. Keindahan alamnya yang relatif masih alami, pasir putih yang mempesona, dan pemandangan laut yang memukau. Namun, ombak di pantai selatan itu bisa membahayakan.
Pantai Drini terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. Dari pusat Kota Jogja jaraknya sekitar 60 kilometer. Estimasi waktu perjalanan sekitar 2-3 jam. Dari Pantai Baron, jaraknya sekitar 1 kilometer. Akses menuju pantai ini agak sulit jika mencari kendaraan umum.
Salah satu di antara spot menarik di kawasan ini adalah keberadaan pulau kecil bernama Pulau Drini. Pulau itu terhubung dengan sebuah jembatan. Lokasi pantai Drini sendiri berada di sebelah timur Pulau Drini yang ombaknya lebih tenang. Sebelum dikenal sebagai salah satu tempat wisata, sebenarnya Pantai Drini adalah pantai para nelayan. Bahkan, sampai sekarang pun masih aktif sebagai pantai nelayan. Banyak perahu-perahu tertambat kala cuaca tidak bersahabat.
Sejarah Pantai Drini
Dilansir dari laman Kabupaten Gunung Kidul, Pantai Drini memilik cerita tersendiri. Ini dikisahkan oleh Mbah Mandung, seorang sesepuh dan tokoh masyarakat yang berada di Pantai Drini. Konon, pada waktu itu Raja Majapahit beserta ratu selirnya di dalam pelarian kejaran musuh, kemudian singgah di wilayah Tanjung (sekarang Kecamatan Tanjungsari).
Di tengah pelarian, raja dan ratu selirnya terpisah. Kondisi selir raja sedang dalam keadaan hamil. Kemudian Sang Ratu melanjutkan pelariannya ke arah selatan dan sampailah di Padukuhan Jambu. Sesampainya di Padukuhan Jambu, Sang Ratu melahirkan. Namun, anak yang dilahirkan Sang Ratu tidak dapat diselamatkan. Lalu, jenazah dimakamkan di Padukuhan Jambu hingga sampai saat ini tempat di mana anak Sang Ratu tersebut dikenal dengan sebutan “makam cilik”.
Setelah pemakaman selesai, dan beristirahat sejenak Sang Ratu pun kembali meneruskan perjalanan ke arah selatan. Pada fajar menyingsing, Sang Ratu tiba di suatu kampung kecil yang kemudian diberi nama “Padangan”. Sang Ratu memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sang Ratu kebingungan dan sangat merasa sedih atas kejadian yang menimpanya.
Sang Ratu pun melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga sampailah di pesisir pantai, Sang Ratu masih sangat sedih hingga tanpa sadar ia menitihkan air mata di bebatuan yang ada di sekitar pantai. Ajaibnya, dari tetesan air mata Sang Ratu pada bebatuan tersebut dapat tumbuh tanaman yang sangat subur, walaupun tidak ada tanahnya sama sekali.
Kemudian oleh nenek moyang, tanaman tersebut dinamakan pohon Drini. Pada tahun 1958, bupati Gunung Kidul yang saat itu adalah Darmo Kusumo, bersama Lurah Desa Banjarejo melakukan babat alas atau membuka lahan untuk kepentingan rakyat. Jadilah, sekarang “Pantai Drini” sebagai salah satu objek pariwisata unggulan Desa Banjarejo, yang dapat membantu menunjang kesejahteraan masyarakat.
Namun, saat ini keberadaan tanaman Drini ini sudah langka. Menyadari hal ini warga sekitar pantai mulai banyak yang membudidayakan tanaman tersebut. Dengan demikian, suatu saat anak cucu dapat mengetahui yang namanya pohon Drini dan juga Pantai Drini tidak kehilangan salah satu bukti identitasnya. Demikian sejarah singkat Pantai Drini, apabila ke depan terdapat bukti-bukti lain ataupun sumber lain dapat ditambahkan.
Yang jelas, di balik eksotika Pantai Drini dan destinasi manapun, para pengunjung mesti selalu waspada dan hati-hati. Selalu mematuhi peringatan, aturan dan imbauan. Terlebih ketika mengajak rombongan anak-anak atau bocah. Jangan sampai ingin berwisata, malah berbuah petaka. (*)








