KabarBaik.co – Musim penghujan yang melanda beberapa minggu terakhir mulai memukul para petani bunga mawar di Kota Batu. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan serangan hama dan penyakit meningkat, sehingga biaya perawatan tanaman ikut melonjak drastis.
Manto Suliono, petani mawar di kawasan Metro, Kelurahan Sisir, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk menjaga kualitas tanamannya agar tetap layak jual. “Musim seperti ini bisa membuat bunga mudah rontok dan daun cepat rusak akibat serangan hama dan jamur. Cuaca sekarang tidak bisa ditebak, kadang panas sekali, tiba-tiba hujan deras,” ujarnya, Minggu (2/11).
Menurut Manto, saat musim kemarau penyemprotan obat hanya dilakukan seminggu sekali. Namun kini, di masa peralihan musim, penyemprotan harus dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu. “Sekali semprot biasanya habis Rp 200 ribu, sekarang bisa naik sampai Rp 500 ribu untuk 3 ribu batang mawar,” jelasnya.
Kondisi ini jelas menambah beban produksi para petani. Padahal, harga jual bunga mawar potong di tingkat petani masih bertahan di kisaran Rp1.000 per tangkai. Akibatnya, margin keuntungan menjadi semakin tipis. “Kalau begini terus, petani bisa tekor karena biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil penjualan,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, mawar merupakan komoditas tanaman hias dengan tingkat produksi tertinggi di Kota Batu. Pada 2022, luas panen bunga mawar meningkat dari 1.005.260 meter persegi menjadi 1.008.600 meter persegi.
Sementara itu, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, dikenal sebagai sentra utama bunga mawar potong yang telah menembus pasar nasional. Namun, cuaca ekstrem belakangan ini membuat hasil panen tidak seoptimal biasanya. Apalagi pada momentum Hari Valentine Februari 2025 lalu, permintaan bunga mawar sempat melonjak hingga tiga kali lipat.
Namun kini, musim hujan menjadi tantangan tersendiri karena mengancam produktivitas dan kualitas bunga.
Perubahan cuaca ekstrem ini bukan hanya menambah biaya perawatan, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen. Jika situasi berlanjut, para petani dikhawatirkan akan mengalami kerugian lebih besar akibat turunnya hasil panen dan tingginya biaya produksi. (*)






