KabarBaik.co – Kesakralan Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang, Pagu, Kabupaten Kediri, terus memikat ribuan peziarah setiap tahunnya. Tempat ini diyakini sebagai lokasi kelahiran sekaligus moksa sang raja besar Kediri yang masyhur dengan ramalan Jangka Jayabaya.
Di kawasan petilasan, terdapat tiga titik utama yang dipercaya sakral. Tiga titik itu adalah Loka Mahkota sebagai tempat Joyoboyo melepas mahkota, Loka Busana tempat ia menanggalkan busana kebesaran, serta Loka Moksa yang diyakini sebagai titik akhir sebelum sang raja meninggalkan dunia fana.
“Semua yang menempel pada dirinya ditinggalkan. Seperti raja meninggalkan semua dengan ikhlas,” tutur Mukri, juru kunci petilasan, Minggu (25/1).
Tradisi ziarah di tempat ini tidak sekadar datang dan berdoa. Ada tata krama yang dijaga turun-temurun, di antaranya membawa bunga, dupa, atau kemenyan. Malam Jumat Legi menjadi momen paling ramai, di mana masyarakat, tokoh, hingga pejabat larut dalam doa penuh khidmat.
Selain itu, setiap 1 Suro digelar kirab budaya yang melibatkan ratusan peserta, termasuk pelajar, untuk menabur bunga di area petilasan.
Sejarah panjang petilasan ini bermula sejak sekitar tahun 1860, ketika masyarakat menjulukinya sebagai Mbah Ageng Joyoboyo dengan bentuk sederhana berupa pamuksan. Perubahan besar terjadi pada 1972 melalui pembangunan oleh Yayasan Hondodento, dan rampung pada 17 April 1976. Sejak itu, kawasan ini makin dikenal luas sebagai situs spiritual sekaligus sejarah.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Mustika, menegaskan bahwa situs ini bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga.
“Petilasan dan agenda tahunan ritual Sri Aji Joyoboyo adalah salah satu budaya di Kediri yang harus kita jaga. Itu sudah terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal di Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2021,” ujarnya.
Kini, Petilasan Prabu Joyoboyo menjadi magnet wisata spiritual sekaligus budaya. Peziarah datang untuk berdoa dan ngalap berkah, sementara wisatawan maupun pelajar memanfaatkannya sebagai ruang belajar sejarah dan kearifan Jawa.
Suasana sakral, tradisi yang lestari, hingga nilai kebijaksanaan Joyoboyo menjadikan petilasan ini bukan sekadar situs bersejarah, melainkan pengingat kejayaan Kediri sekaligus cermin kebijaksanaan yang tetap relevan lintas zaman. (*)








