KabarBaik.co – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang, dengan kapasitas 2×10 MW, telah menjadi pelopor dalam transisi energi berkelanjutan di Kalimantan Barat. Beroperasi sejak 2016, PLTU ini menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sukaharja, sehingga berhasil menekan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik sekaligus meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di wilayah Ketapang dan Kayong Utara.
Sebagai bagian dari program transisi energi yang diusung PT PLN (Persero), PLTU Ketapang mengadopsi teknologi cofiring, yaitu mencampur batu bara dengan biomassa berbasis cangkang sawit dan woodchip. Langkah ini menunjukkan fleksibilitas penggunaan energi terbarukan yang berbasis potensi lokal. Implementasi ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah menjadi energi.
“Penggunaan cangkang sawit dan woodchip di PLTU Ketapang telah memberikan dampak nyata dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus memanfaatkan limbah biomassa yang melimpah di sekitar wilayah ini,” ujar Mahya Tauhidiya Nur, Manager Unit PLTU Ketapang, Rabu (7/5).
Hingga 2024, PLTU Ketapang berhasil mempertahankan rasio cofiring secara konsisten, menjadikannya salah satu pembangkit yang ramah lingkungan dan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.
Selain itu, keberhasilan cofiring di PLTU Ketapang juga dirasakan oleh masyarakat lokal. Melalui keterlibatan aktif dalam penyediaan biomassa, program ini menciptakan peluang ekonomi baru, memperkuat ketahanan energi daerah, dan mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
PLTU Ketapang kini menjadi model pembangkit listrik yang tidak hanya efisien secara operasional, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan kombinasi teknologi, inovasi, dan kolaborasi masyarakat, PLTU ini membuktikan bahwa transisi energi tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga membawa manfaat besar bagi lingkungan dan ekonomi lokal.(*)






