KabarBaik.co – Petani jeruk di Desa Sagat, Kecamatan Cluring, Banyuwangi terancam gagal panen karena pohon jeruk banyak yang rusak lantaran diserang jamur.
Total ada 100-an pohon di lahan seluas 1 hektar yang rusak terserang penyakit tersebut. Akibatnya jeruk sedianya akan dipanen berguguran dan menguning.
Salah satu petani, Rozak, 30 tahun mengatakan total kerusakan sudah 90 persen. Artinya sudah sulit untuk diselamatkan.
“Sudah gak ada harapan ini, hampir 90 persen kena. Kalau sudah begitu buahnya gak bisa matang,” ungkap Rozak, Senin (28/4).
Dia menyebut hampir sebagian besar petani di wilayahnya mengalami nasib serupa. Pohon-pohon jeruk diserang jamur hingga membusuk dan akhirnya mati.
“Sekitar 50 orang petani jeruk di sini mengalami nasib sama. Penyebabnya bakteri, virus dan mungkin karena jamur. Akibatnya batangnya membusuk, buah menguning dan rontok,” jelasnya.
Akibat serangan jamur tersebut, Rozak merugi hingga Rp 50 juta. Lantaran tak mau tambah merugi, Rozak pun memilih panen lebih awal meskipun jeruk masih belum matang.
“Gak bisa tua karena belum matang itu sudah rontok, dipanen muda ya buat minuman itu. Harganya sekitar Rp 3.500 – Rp 4.000 itu kalau jual BL,” lanjut Rozak.
Padahal, pada musim ini harga jeruk tergolong baik yakni diangka Rp 8.000 per kilogram. Jeruk miliknya baru berbuah sebanyak dua kali, kata Rozak pohon-pohon jeruk miliknya itu seharusnya bisa panen hingga 4 kali dalam satu musim dengan usia produktif hingga 15 tahun.
“Harusnya masih bisa panen sampai umur 15 tahun bahkan lebih, ini umurnya baru 2 tahun lebih. Kalau sudah busuk cara satu-satunya ya ditebang pohonnya,” ungkap Rozak dengan nada kesal.
Penularan virus tersebut tergolong cepat, dalam hitungan hari satu lahan seluas 1/4 hektar miliknya langsung terinfeksi dan berlanjut ke lahan-lahan jeruk miliknya yang lain. Kondisi serupa juga dialami oleh sejumlah lahan jeruk lainnya di desa tersebut.
“Semua mengeluhkan kondisi ini, belum ada arahan atau petunjuk dari penyuluh pertanian. Kami sudah berupaya berbagai cara mulai menggunakan obat-obatan sampai konvensional tapi kondisinya tetap sama,” tutup Rozak.
Akibat kondisi ini, suplai jeruk dari kabupaten Banyuwangi terancam turun. Banyuwangi dikenal sebagai produsen buah jeruk yang cukup besar setelah Jember, yang mampu mengisi pasar-pasar buah besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bali.(*)







