KabarBaik.co, Surabaya, – Persebaya Surabaya berada di ambang sejarah untuk mencatatkan lima kemenangan beruntun saat menjamu Dewa United di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) malam ini (1/2). Menilik performa impresif tim asuhan Bernardo Tavares, kemenangan dengan skor telak seperti 3-0 sangat mungkin terjadi. Asal, keran gol mampu dibuka lebih awal.
Kunci utama kemenangan besar laga ini adalah intensitas serangan sejak peluit kick-off. Jika gol pembuka lahir maksimal pada menit ke-20, kepercayaan diri Dewa United dipastikan akan goyah.
Gol cepat tidak hanya memberikan keunggulan angka, tetapi juga memaksa lawan untuk keluar menyerang secara terbuka, sebuah situasi yang sangat disukai penyerang sayap cepat Persebaya seperti Gali Freitas dan Bruno Moreira untuk melakukan serangan balik mematikan. Tentu saja dukungan ribuan Bonek di GBT dipastikan akan membuat atmosfer stadion menjadi kawah candradimuka yang melumpuhkan mental lawan sejak menit awal.
Problemnya memang jika gagal tercipta gol cepat. Namun, Green Force harus tetap waspada dan berkepala dingin jika hingga menit ke-20 gol yang dinantikan belum kunjung tiba. Jika suasana itu tidak terwujud, Persebaya haram terjebak dalam rasa frustrasi yang bisa menyebabkan hilangnya disiplin posisi.
Bernardo Tavares harus menginstruksikan pemainnya untuk tetap sabar dalam melakukan sirkulasi bola dan tidak terburu-buru melakukan spekulasi jarak jauh yang berpeluang sia-sia.
Kegagalan mencetak gol di awal laga seringkali membuat lini belakang menjadi terlalu maju. Akibatnya rentan terhadap serangan balik lawan. Dalam situasi ini, kedewasaan bermain sangat diuji; Bajol Ijo harus tetap konsisten menekan tanpa meninggalkan lubang di pertahanan, sembari menunggu momentum kelelahan lawan di akhir babak pertama atau bisa memanfaatkan set piece.
Laga ini juga mengusung misi besar untuk memperbaiki catatan head-to-head, di mana Persebaya belum pernah menang melawan Dewa United dalam lima pertemuan terakhir sejak 2023. Namun, kali ini Bajol Ijo memiliki sejuml keunggulan strategis. Sebut saja, sosok Risto Mitrevski. Sebagai mantan pemain Dewa United, Mitrevski berperan sebagai “orang dalam” yang memahami detail transisi dan titik lemah lini belakang eks klubnya tersebut, sekaligus menjadi kompas bagi koordinasi pertahanan Persebaya.
“Ini adalah pertandingan yang istimewa. Tapi bagi saya, ini hanyalah pertandingan lain. Saya sekarang adalah pemain Persebaya. Saya akan memberikan 100 persen kemampuan saya besok (hari ini, Red) untuk mencoba mengalahkan Dewa United,” tegas Mitrevski.
Ujian terberat lini belakang Persebaya adalah meredam Duo M (Messidoro & Martins) yang sedang dalam performa puncak musim ini. Statistik menunjukkan betapa berbahayanya duet ini. Alex Martins adalah striker tajam dengan koleksi 8 gol dan 3 assist. Sedangkan Alexis Messidoro, jenderal lapangan tengah dengan torehan 6 gol dan 3 assist.
Nah, lini tengah Persebaya wajib memutus rantai pasokan bola dari Messidoro agar Martins terisolasi di depan tanpa menyentuh bola. Selain itu, memaksa Dewa United bermain bola atas dapat jadi opsi solusi jitu, mengingat duet bek sentral Risto Mitrevski dan Jefferson Silva memiliki keunggulan postur untuk memenangkan duel-duel udara di area kotak penalti.
Demikian juga potensi Ricky Kambuaya, eks Bajol Ijo yang kini memperkuat Dewa United. Pergerakannya mesti dapat dikunci oleh gelandang kuat seperti Rachmat Irianto atau lainnya.
Jika strategi gol cepat berhasil dijalankan, atau bahkan jika laga berjalan alot hingga jeda, Persebaya memiliki kemewahan untuk “menyelesaikan” pertandingan di babak kedua. Masuknya pemain pengganti yang haus gol seperti Bruno Paraiba bisa menjadi faktor pembeda dan Pedro Matos saat stamina bek lawan mulai terkuras.
Dengan kedisiplinan taktik dan efektivitas peluang, kemenangan 3-0 atau 2-0 bukan sekadar mimpi bagi publik Surabaya demi mengamankan posisi ke papan atas klasemen. Wani. (*)






