KabarBaik.co – Fenomena penurunan produktivitas tanaman apel di Kota Batu semakin mengkhawatirkan. Di kawasan Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, sejumlah petani terpaksa menebang ratusan pohon apel tua yang sudah tidak lagi produktif.
Langkah drastis ini dilakukan karena biaya perawatan yang tinggi tidak sebanding dengan hasil panen. Ditambah kondisi pohon yang banyak terserang penyakit. Pantauan di lapangan, Minggu (13/7), sejumlah lahan apel tampak mulai dibongkar.
Petani terlihat memotong dan membersihkan pohon-pohon yang telah puluhan tahun tumbuh, namun tak lagi menghasilkan buah secara optimal. “Sudah berat untuk mempertahankan apel. Biaya perawatan tinggi, obat-obatan mahal, panennya sedikit, kadang harganya juga rendah. Jadi yang sudah tidak produktif kami tebang. Rencananya kami tanami sayuran saja,” ujar Jalil, salah satu petani setempat.
Jalil menyebut, banyak pohon apel di wilayah tersebut berusia antara 40 hingga 50 tahun. Pada usia itu, pohon lebih rentan terserang penyakit dan sulit menghasilkan buah berkualitas. Jika dipertahankan, petani justru berisiko mengalami kerugian yang lebih besar.
Tak hanya faktor usia, cuaca ekstrem dan perubahan musim yang sulit diprediksi juga disebut ikut memperparah kondisi tersebut. Ketidakpastian iklim membuat tanaman apel semakin rentan gagal panen.
Data dari Dinas Pertanian menunjukkan, luas lahan apel di Kota Batu mengalami penyusutan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2022 tercatat seluas 1.200 hektare, maka hingga 2025 tersisa 1.092 hektare. Banyak petani memilih beralih ke komoditas lain seperti sayuran dan tanaman hortikultura yang dinilai lebih stabil secara ekonomi.
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, bukan tidak mungkin lahan apel di Batu akan terus berkurang. Biaya tinggi, hasil rendah, cuaca tak menentu. Itu beban yang sangat berat bagi petani,” tambah Jalil.
Para petani berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan bibit unggul, subsidi pupuk dan pestisida, maupun pelatihan regenerasi tanaman. Upaya ini dinilai penting agar apel tetap menjadi komoditas khas dan kebanggaan Kota Batu.
Dikenal sebagai kota apel, Batu memiliki iklim dan kondisi geografis yang cocok untuk pertanian hortikultura. Namun, jika tekanan ekonomi dan perubahan iklim tak segera diatasi, kebun-kebun apel berisiko tergantikan oleh ladang sayur dalam beberapa tahun ke depan. (*)







