KabarBaik.co – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah deretan guru besar di lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh, S.TP., M.P., resmi dikukuhkan sebagai profesor aktif ke-31 di FTP UB sekaligus menjadi profesor ke-433 yang dihasilkan kampus tersebut.
Dalam pemaparannya, Prof. Siti menegaskan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan fondasi perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian UMKM tahun 2024, sektor UMKM berkontribusi sebesar 61,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.
“UMKM adalah penggerak utama ekonomi rakyat. Namun setiap klaster UMKM memiliki tantangan berbeda yang membutuhkan strategi pengembangan berbasis peta klaster,” kata Prof. Siti di kampus UB Kota Malang, Rabu (20/8).
Prof. Siti memperkenalkan Model SIPs-KUMKM (Sistem Informasi Pendukung Keputusan untuk Koperasi dan UMKM). Menurutnya, sistem berbasis web ini menyajikan visualisasi klaster agroekologi, optimasi mutu proses produksi, mitigasi risiko, analisis kelayakan finansial, hingga strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan.
Model ini sudah diterapkan pada klaster UMKM minuman sari apel di Kota Batu, yang dikenal sebagai sentra pengolahan apel. Menurut Prof. Siti, standarisasi kualitas produksi perlu diuji tidak hanya lewat laboratorium, tetapi juga melalui respons konsumen.
“Melalui sistem ini, pelaku UMKM dapat melakukan simulasi standar kualitas, analisis finansial, hingga rekomendasi strategi bisnis secara real time,” jelasnya.
Menurut Prof. Siti, model tersebut kini dikembangkan untuk produk turunan apel seperti dodol, keripik, tonic, serta produk pangan lokal lain. Bahkan, cakupan sistem diperluas ke berbagai wilayah Jawa Timur mulai dari pedesaan, pesisir, perkotaan, hingga daerah kapur.
Lebih dari itu, Prof. Siti juga menyoroti dinamika UMKM berbasis hortikultura di Kota Batu. Ia menyebut, meski lahan apel mulai berkurang, UMKM terus berinovasi dengan memanfaatkan buah kualitas rendah menjadi produk olahan bernilai tambah seperti dodol dan keripik apel.
“Inovasi lain juga muncul, seperti keripik buah dan sayur tanpa minyak melalui teknologi freezer. Hal ini menunjukkan UMKM Kota Batu mampu mengembangkan produk kearifan lokal selain apel, termasuk jeruk, cabai, hingga brokoli,” tuturnya.
Bahkan, ke depan, Prof. Siti menekankan pentingnya integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem informasi UMKM. Menurutnya, AI dapat mempercepat klasifikasi data, analisis empiris, hingga perumusan strategi bisnis adaptif.
“Harapannya, UMKM lebih siap menghadapi perubahan dengan data terintegrasi di seluruh rantai pasok. UMKM kita tangguh, penuh kreativitas, dan memiliki semangat besar untuk mendukung kemandirian pangan sekaligus daya saing global tanpa meninggalkan identitas lokal,” tegasnya. (*)








