Prof. Mashudi Kenalkan Model Nutrisi Presisi, Dorong Kemandirian Produksi Susu Nasional

oleh -26 Dilihat
IMG 20260209 WA0025
Prof. Mashudi menjelang pengukuhannya di Hall Samantha Krida Universitas Brawijaya. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co, Malang – Produksi susu nasional hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari total kebutuhan susu masyarakat Indonesia, sekitar 80 persen masih dipenuhi dari impor, sementara produksi dalam negeri baru menyumbang sekitar 20 persen.

Melihat kondisi tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Pakan Ternak Ruminansia, Prof. Mashudi, memperkenalkan inovasi Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) berbasis proteksi protein dan asam amino menggunakan senyawa tanin untuk mendukung pengembangan peternakan perah tropis berkelanjutan.

Prof. Mashudi menjelaskan, ternak ruminansia seperti sapi perah dan kambing perah memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani melalui produksi susu. Selain itu, sektor ini juga menjadi sumber penghasilan utama bagi peternak rakyat di Indonesia.

“Keberhasilan produksi susu sangat dipengaruhi pengelolaan nutrisi ternak, khususnya protein. Hal tersebut dikarenakan protein merupakan komponen pakan dengan biaya tertinggi serta berkontribusi langsung terhadap produksi dan kualitas susu,” terangnya di Hall Samantha Krida, Universitas Brawijaya, Kota Malang.

Secara biologis, lanjut Prof. Mashudi, jika ternak perah bergantung pada fungsi rumen sebagai pabrik biologis yang mengonversi pakan berserat menjadi energi dan protein mikroba. “Namun, berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar protein pakan justru mengalami degradasi berlebih di dalam rumen menjadi amonia,” tambah Prof. Mashudi.

Amonia tersebut tidak sepenuhnya dimanfaatkan untuk sintesis protein mikroba, melainkan dikeluarkan sebagai urea. Kondisi ini menyebabkan rendahnya efisiensi pemanfaatan nitrogen serta meningkatnya kehilangan nitrogen ke lingkungan, yang ditandai dengan tingginya milk urea nitrogen (MUN) pada ternak perah.

Selama ini peningkatan produksi susu banyak dilakukan melalui pendekatan konvensional dengan menaikkan kadar protein kasar (PK) dalam pakan. Namun, Prof. Mashudi menilai langkah tersebut tidak selalu efektif.

Peningkatan protein kasar di atas kebutuhan fisiologis ternak sering kali tidak meningkatkan produksi susu, bahkan dapat menurunkan efisiensi penggunaan nitrogen. Kondisi ini semakin kompleks pada sistem peternakan tropis Indonesia yang menghadapi variasi kualitas hijauan, keterbatasan energi fermentabel, serta ketergantungan pada pakan lokal.

“Melalui Model NPRP, rumen ditempatkan sebagai pabrik biologis yang dikelola secara presisi melalui proteksi selektif protein dan asam amino esensial pembatas, yakni lisin dan metionin. Model ini mengintegrasikan proteksi protein dengan pendekatan nutrisi presisi yang selaras dengan fisiologi rumen dan sistem peternakan tropis,” ujarya.

Prof. Mashudi menuturkan, penerapan model tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas susu sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Selain itu, model ini juga berpotensi menjadi fondasi pengembangan peternakan perah tropis yang lebih efisien.

Ia juga menyinggung pemeliharaan sapi perah jenis Friesian Holstein (FH) yang banyak digunakan di Indonesia. Menurutnya, sapi FH merupakan sapi impor yang hanya dapat berproduksi optimal apabila mendapatkan intervensi lingkungan dan pakan yang baik.

Kondisi tersebut berbeda dengan peternakan rakyat yang memiliki keterbatasan sarana dan teknologi. Padahal, sekitar 90 persen produksi susu nasional berasal dari peternakan rakyat. “Melalui inovasi nutrisi presisi tersebut, diharapkan produktivitas peternakan rakyat dapat meningkat sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.