KabarBaik.co, Jombang– Di tengah derasnya arus hiburan modern, kesenian ludruk di Jombang, Jawa Timur masih bertahan dan terus hidup di tengah masyarakat. Denting kendang, alunan gamelan, hingga dialog khas yang sarat pesan moral tetap menggema di panggung-panggung sederhana.
Salah satu sosok di balik keberlangsungan itu adalah Didik Purwanto. Ia dikenal sebagai penerus Ludruk Budhi Wijaya, grup seni yang telah berdiri sejak 1985 dan dirintis oleh ayahnya, Sahid seorang maestro ludruk yang cukup dikenal di kalangan seniman tradisional Jombang.
Sejak 2010, Didik mengambil alih kepemimpinan grup tersebut. Di tangannya, Ludruk Budhi Wijaya tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Didik menyadari bahwa tantangan terbesar kesenian tradisional saat ini bukan sekadar soal panggung, melainkan perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat.
“Karena itu, saya mulai membawa ludruk masuk ke ruang digital, agar bisa menjangkau penonton yang lebih luas, terutama generasi muda,” ujar Didik, Selasa (14/4).
Meski demikian, ia tetap menjaga akar tradisi. Cerita yang diangkat masih memuat nilai-nilai sosial dan kritik khas ludruk, hanya dikemas dengan isu yang lebih netral dan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Dengan cara itu, ludruk tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya,” katanya.
Bagi Didik, ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari jati diri budaya yang harus dijaga. Ia pun konsisten mempertahankan aktivitas pementasan, meski menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan dana hingga menurunnya minat generasi muda.
Tak hanya itu, Didik juga aktif merangkul anak muda untuk terlibat langsung dalam dunia ludruk. Ia percaya, keberlanjutan kesenian ini sangat bergantung pada regenerasi pelaku seni.
“Saya yakin, kalau generasi muda ikut terlibat dan mencintai, ludruk akan terus hidup,” ujarnya. (*)






