Joachim Klement bukan pelatih. Bukan juga mantan pemain sepak bola. Dia seorang ekonom asal Jerman berlatar belakang matematika murni. Lebih sering berbicara soal alokasi aset, geopolitik, dan kesalahan investor daripada formasi 4-3-3 atau 5-3-2. Namun, dalam tiga Piala Dunia terakhir, prediksi juaranya selalu tepat. Jerman (2014), Prancis (2018), dan Argentina (2022).
Kini, dengan percaya diri yang dibalut humor khasnya, Klement menyatakan bahwa Belanda akan menjadi juara di Piala Dunia 2026, yang digelar di Amareika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Juni mendatang.
Klement mengembangkan model prediksinya pada 2014 sebagai sebuah lelucon ilmiah. Tujuannya sederhana, mengejek kebiasaan ekonom yang suka memprediksi masa depan dengan penuh keyakinan, padahal banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
“Saya ingin menunjukkan betapa sombongnya para ekonom yang mengira mereka bisa memprediksi hal-hal yang sebenarnya tidak mereka pahami,” katanya sambil tertawa dalam wawancara dengan BBC.
Namun, lelucon tersebut berubah menjadi legenda. Tiga kali berturut-turut modelnya presisi, tepat sasaran. Belakangan, orang-orang mulai menganggapnya sebagai “guru”. “Jika Anda cukup sering beruntung, orang akan menganggap Anda jenius,” ujarnya.
Fondasi Matematika yang Solid
Dia lulusan matematika dari ETH Zurich, salah satu universitas sains terbaik di dunia. Klement memiliki latar belakang yang kuat dalam pemodelan kuantitatif. Ia juga memegang gelar Master Ekonomi dan Chartered Financial Analyst (CFA). Saat ini ia menjabat sebagai Head of Strategy, Economics, and ESG di Panmure Liberum, bank investasi di London.
Model prediksinya menggabungkan variabel-variabel objektif, antara lain, jumlah penduduk negara, tingkat kesejahteraan (GDP per kapita), faktor iklim, peringkat FIFA. Menurut Klement, sekitar 50 persen dari hasil Piala Dunia adalah keberuntungan yang tidak bisa diprediksi, Mulai dari keputusan wasit, performa kiper di saat krusial, hingga gol bunuh diri.
Nah, dalam skenario Klement, Belanda akan melewati turnamen dengan dramatis. Fase grup, lolos bersama Jepang, Swedia, dan Tunisia. Lalu, di 16 besar, Belanda bakal mengalahkan Maroko. Selanjutnya, perempat final atau delapan besar, skuad Oranye disebut menang atas Prancis berkat gol bunuh diri lawan.
Kemudian, di babak semifinal, Belanda diyakini akan mengalahkan Spanyol lewat adu penalti. Dan, mengalahkan Portugal di babak final.
Prediksi itpunsudah membuat beberapa rekan kerjanya di bank investasi nekat memasang taruhan pada Belanda. Klement sendiri tetap rendah hati. “Kalau Belanda tersingkir lebih awal, saya mungkin harus kerja dari rumah besok harinya,” candanya.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Di luar prediksi Piala Dunia, Klement adalah penulis buku laris 7 Mistakes Every Investor Makes dan Geo-Economics. Ia aktif menulis di Substack pribadinya, Klement on Investing, yang dikenal karena analisis tajam dan kadang “grumpy” khas Jerman.
Bagi Klement, model Piala Dunia ini sebenarnya adalah pelajaran hidup yang lebih besar. Bahwa, kita bisa memodelkan banyak hal dengan baik, tapi selalu ada ruang untuk ketidakpastian dan keberuntungan.
Apakah Belanda benar-benar akan mengakhiri puasa gelar sejak Euro 1988? Atau akankah ini menjadi akhir dari “keberuntungan” Joachim Klement?
Yang pasti, pada Juni-Juli 2026 nenati, publik bola sejagad akan menyaksikan apakah Klement sekali lagi bakal mengalahkan keajaiban lapangan hijau atau justru menjadi pengingat bahwa sepak bola tetap penuh kejutan. Dan, Ekonom berusia 50 tahun itu juga mengingatkan bahwa kadang, prediksi terbaik adalah yang dibuat dengan rendah hati dan sedikit humor bukan? (*)






