KabarBaik.co, Surabaya – Peran masjid mesti terus diperluas. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi bisa juga sebagai pusat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana hingga penggerak pemberdayaan ekonomi umat. Komitmen tersebut mengemuka dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kebencanaan yang diikuti 50 pengurus daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) se-Jawa Timur di Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, Sabtu (11/7).
Ketua PW DMI Jatim Dr KH M. Sudjak MAg menegaskan, masjid harus mampu menjawab tantangan zaman melalui berbagai fungsi strategis. Mulai dari pembinaan ibadah, tata kelola, pendidikan, hingga fungsi sosial dan kebencanaan. Menurut dia, pelatihan kebencanaan menjadi bagian penting untuk memperkuat fungsi riayah atau pemeliharaan masjid agar tetap aman, nyaman, serta siap menghadapi potensi bencana.
“Masjid tidak hanya harus bersih, sehat, dan indah, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana. Selain itu, DMI juga terus mengembangkan program merangkul generasi muda ke masjid, digitalisasi layanan masjid, serta pemberdayaan UMKM melalui Halal Center,” ujarnya.
Ketua Departemen Sosial-Kemanusiaan, Lingkungan Hidup, dan Tanggap Bencana PW DMI Jatim H Lilik Halimy menjelaskan, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus DMI dalam memahami potensi bencana di daerah masing-masing sekaligus memperkuat sinergisitas antara DMI dengan BPBD hingga tingkat kabupaten/kota.
Dalam sesi materi, Ketua Tim Pencegahan dan Penanggulangan BPBD Jatim Dadang Iswandi MT memaparkan bahwa setiap daerah di Jatim memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda dengan total hingga 14 jenis potensi bencana. Mulai dari gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga tsunami.
Dia pun menekankan, pengetahuan masyarakat menjadi faktor utama dalam menyelamatkan korban saat terjadi bencana. Berdasarkan pengalaman penanganan gempa besar di Jepang, sebagian besar korban selamat justru karena mampu melakukan penyelamatan mandiri dan mendapat bantuan dari keluarga maupun lingkungan sekitar sebelum tim penyelamat tiba.
“Ketika gempa terjadi, lakukan drop, cover, and hold on atau merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, serta melindungi bagian belakang kepala. Pengetahuan sederhana seperti ini terbukti menyelamatkan banyak nyawa,” katanya.
Selain mendapatkan materi teori, peserta juga mengikuti praktik pertolongan pertama, termasuk teknik resusitasi jantung paru (CPR), serta mencoba berbagai simulasi bencana melalui Ruang Simulator, Virtual Reality (VR), dan Pusat Pengendalian Operasi BPBD Jatim. Fasilitas edukasi tersebut menjadi satu-satunya pusat simulasi bencana milik BPBD di Indonesia dan hingga 2025 telah dikunjungi sekitar 12.000 peserta dari 24 provinsi.
Di sisi lain, DMI Jatim juga terus memperkuat peran masjid dalam bidang ekonomi umat. Beberapa hari sebelumnya, Yayasan Demasindo Jatim bersama Departemen Pemberdayaan ZISWAF PW DMI Jatim menggelar Workshop Transformasi ZISWAF: Menuju Kemandirian Ekonomi Umat yang diikuti sekitar 70 peserta dari unsur Badan Pertanahan Nasional (BPN), pengurus DMI, takmir masjid, nazhir wakaf, akademisi ekonomi syariah, serta mitra pemberdayaan.
Workshop tersebut mengangkat gagasan menghidupkan kembali potensi “wakaf tertidur” melalui pengembangan wakaf produktif. Para narasumber menilai wakaf tidak seharusnya hanya dipahami sebagai pembangunan masjid atau sarana ibadah, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk membangun pendidikan, layanan kesehatan, riset, serta penguatan ekonomi umat sebagaimana pernah menjadi pilar kemajuan peradaban Islam.
Melalui penguatan kapasitas kebencanaan dan pengembangan ekonomi berbasis ZISWAF, DMI Jatim berharap masjid semakin berperan sebagai pusat pelayanan masyarakat yang tangguh, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan umat di tengah tantangan zaman. (*)






