Abaikan Imbauan, 400 Hektare Padi di Bojonegoro Terancam Gagal Panen

oleh -68 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 11 at 6.10.07 PM
Area pesawahan padi di Bojonegoro (Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Sekitar 400 hektare tanaman padi di Bojonegoro terancam mengalami gagal panen (puso) akibat kekeringan pada musim kemarau 2026. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian petani masih menanam padi pada Musim Tanam (MT) III di wilayah yang tidak memiliki kecukupan sumber air, meski Pemkab Bojonegoro sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran yang mengimbau agar lahan tersebut tidak ditanami padi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan lahan yang berpotensi terdampak kekeringan berada di Kecamatan Kedungadem dan Sukosewu dengan total luas sekitar 400 hektare.

“Kurang lebih ada 400 hektare yang berada di Kecamatan Kedungadem dan Sukosewu,” ujarnya, Minggu (11/7).

Zaenal menjelaskan seluruh tanaman padi pada Musim Tanam II dipastikan aman dari ancaman kekeringan sehingga dapat dipanen dengan baik. Namun, risiko muncul pada MT III karena masih ada petani yang tetap menanam padi di wilayah dengan pasokan air terbatas.

Sebagai langkah antisipasi, DKPP telah menyiapkan skema perlindungan bagi petani apabila tanaman mereka benar-benar mengalami gagal panen. Bagi tanaman yang usianya masih di bawah satu bulan per 20 Juli 2026, petani akan didaftarkan dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sementara tanaman yang telah berumur lebih dari satu bulan akan diupayakan memperoleh bantuan benih padi untuk musim tanam berikutnya.

“Bila usia tanam masih di bawah satu bulan per 20 Juli, petani akan didaftarkan ke AUTP. Jika sudah lebih dari satu bulan, kami akan mengupayakan bantuan benih padi,” kata Zaenal.

Memasuki puncak musim kemarau, DKPP juga kembali mengingatkan petani agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Petani disarankan beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti palawija atau tembakau, yang dinilai memiliki prospek pasar menjanjikan.

“Musim kemarau tahun ini diperkirakan cukup baik. Sehingga kualitas tembakau, insyaAllah, juga akan bagus,” tambahnya.

Meski demikian, tidak semua petani menghentikan budidaya padi saat musim kemarau. Munaji, petani asal Kecamatan Dander, mengaku tetap menanam padi karena lahan sawah yang dikelolanya memiliki pasokan air dari sumur bor. Menurutnya, keberadaan sumber air tersebut masih memungkinkan tanaman padi tumbuh, meski debit air pada musim kemarau lebih rendah dibandingkan saat musim hujan.

“Saya tetap menanam padi pada musim kemarau karena sawah memiliki sumber air dari sumur bor,” tuturnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.