KabarBaik.co, Bojonegoro – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro bergerak cepat memastikan keberlanjutan produksi tembakau dengan menyediakan benih unggul bersertifikat dan berlabel resmi bagi para petani. Program tersebut mendapat sambutan positif, terlihat dari tingginya serapan benih gratis yang kualitasnya dijaga melalui pengujian laboratorium secara berkala.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Sub Koordinator Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menjelaskan bahwa seluruh varietas benih yang disalurkan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar, baik pabrikan lokal maupun nasional. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani.
“Kami menguji daya kecambah benih setiap enam bulan sekali di laboratorium. Keberhasilan sektor hulu pertanian menjadi prioritas kami, sehingga varietas yang disalurkan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar, seperti Virginia dan Jawa,” ujar Bambang, Kamis (4/6).
Hingga akhir Mei 2026, penyaluran benih tembakau menunjukkan capaian yang cukup tinggi. Dari total stok 14,5 kilogram yang berasal dari sisa cadangan tahun sebelumnya dan pengadaan baru, sebanyak 8,743 kilogram telah diserap oleh sejumlah kelompok tani.
Salah satu varietas yang paling diminati adalah Python 4 asal Probolinggo. Seluruh kuota stok sebanyak 3,5 kilogram habis terserap karena tingginya permintaan dari petani. Sementara itu, varietas K326 yang juga menjadi favorit hanya menyisakan sekitar 460 gram dari stok awal 2,03 kilogram.
Saat ini DKPP masih memiliki sekitar 5 kilogram stok benih yang didominasi varietas Jawa, seperti Rejep Gagang Sidi, Grompol Jatim, Kasturi 2, dan Jinten Pak Pie. Varietas tersebut banyak dibudidayakan di Kecamatan Temayang, Bubulan, Purwosari, dan Tambakrejo.
Stok yang tersisa juga dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah sentra tembakau lainnya seperti Kecamatan Kepohbaru, Kedungadem, Baureno, dan Sukosewu. Sejumlah petani di wilayah tersebut masih menunda pengambilan benih karena sedang menyelesaikan panen komoditas sebelumnya sebelum memulai persemaian tembakau.
Untuk musim tanam 2026, Pemkab Bojonegoro menargetkan perluasan areal tanam tembakau hingga hampir 16.000 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 15.000 hektare.
Perkembangan budidaya tembakau di Bojonegoro juga terus menunjukkan tren positif. Dari total 28 kecamatan, sebanyak 26 kecamatan kini aktif menanam tembakau. Jumlah tersebut meningkat dibanding periode 2023–2024 yang hanya mencakup 22 kecamatan. Hingga saat ini, hanya Kecamatan Bojonegoro Kota dan Kapas yang belum melaporkan adanya penanaman tembakau secara massal.
Dalam mendukung produktivitas petani, DKPP menerapkan alokasi bantuan benih sebesar 10 gram per hektare. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding kebutuhan riil petani yang berkisar antara 6 hingga 8 gram per hektare. Tambahan benih diberikan sebagai cadangan apabila terjadi kegagalan saat proses persemaian.
“Dari 10 gram benih, petani berpotensi memperoleh sekitar 18 ribu hingga 20 ribu bibit siap tanam. Kelebihan alokasi ini kami siapkan sebagai faktor keamanan apabila terjadi kendala saat penyemaian,” jelas Bambang.
Meski antusiasme petani tinggi, DKPP mengingatkan adanya ancaman cuaca ekstrem berupa fenomena kemarau basah yang ditandai hujan dengan intensitas cukup tinggi pada sore hari. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan tanaman tembakau yang baru dipindahkan ke lahan mengalami kematian akibat genangan air.
Pada beberapa musim tanam sebelumnya, kondisi cuaca yang kurang mendukung bahkan membuat petani harus melakukan penyulaman atau tanam ulang hingga lima sampai tujuh kali. Akibatnya, biaya tenaga kerja dan operasional meningkat cukup signifikan.
Sebagai langkah antisipasi, DKPP mengimbau petani untuk rutin memantau informasi cuaca dari BMKG dan memperbaiki tata kelola lahan. Pembuatan guludan atau bedengan yang lebih tinggi serta optimalisasi saluran drainase menjadi langkah penting untuk mencegah genangan air yang dapat merusak perakaran tanaman tembakau.
“Kami meminta petani terus memperbaiki manajemen lahan, terutama sistem drainase dan ketinggian bedengan, agar tanaman tetap aman meskipun terjadi hujan di awal musim tanam,” pungkas Bambang. (*)






