KabarBaik.co, Gresik – Hamparan tanaman melon tumbuh rapi di atas lahan tidur yang berada di tengah kawasan industri Kota Gresik. Sulit membayangkan kebun itu ternyata digarap oleh seorang anggota Polri yang sehari-hari disibukkan dengan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Dialah AKP Wiwit Mariyanto. Di sela kesibukannya sebagai polisi, ia memilih menghabiskan waktu luang dengan bertani. Aktivitas yang awalnya menjadi hobi itu kini berkembang menjadi usaha produktif yang mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah dalam sekali musim panen.
Di lahan dekat Telaga Ngipik yang dikelolanya, Wiwit menanam sekitar 7.000 bibit melon. Dalam setahun, ia dapat melakukan dua kali masa tanam, menyesuaikan kondisi cuaca dan kesiapan lahan. Saat tidak menanam melon, sebagian lahan dimanfaatkan untuk budidaya jagung. Termasuk pohon-pohon pisang.
Bagi perwira Polri yang kini menjabat sebagai Kapolsek Balongpanggang Polres Gresik itu, bertani bukan semata-mata mengejar keuntungan. Ia memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung program ketahanan pangan yang saat ini terus didorong pemerintah.
“Ini merupakan implementasi nyata mendukung ketahanan pangan. Selain itu, bertani juga menjadi cara saya mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif,” ujar pria kelahiran Lumajang tersebut, Kamis (16/7).
Pilihan bertani di tengah kawasan perkotaan dan industri menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal itu justru membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan komoditas pertanian bernilai ekonomi.
Dengan perawatan yang rutin, ribuan tanaman melon tersebut mampu tumbuh optimal hingga masa panen. Hasilnya tidak hanya memberikan tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih memiliki prospek menjanjikan, bahkan di wilayah yang identik dengan kawasan industri.
“Selain itu, saya juga melibatkan para tukang becak yang sering mangkal di dekat rumah saya untuk ikut merawat melon-melon ini. Jadi juga menambah pemasukan bagi abang becak. Alhamdulillah bermanfaat,” tandasnya.
Kisah AKP Wiwit menunjukkan bahwa profesi sebagai aparat penegak hukum tidak membatasi seseorang untuk berkarya di bidang lain. Di balik seragam dinas yang dikenakannya, ia tetap menyempatkan diri merawat tanaman, memantau pertumbuhan buah, hingga menikmati hasil panen yang bernilai puluhan juta rupiah.
Baginya, bertani adalah cara menjaga keseimbangan antara pengabdian kepada negara dan kepedulian terhadap ketahanan pangan. Dari lahan sederhana di tengah Kota Gresik, ia membuktikan bahwa produktivitas bisa tumbuh di mana saja, selama ada kemauan untuk mengelolanya.(*)




