KabarBaik.co, Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) membukukan laba bersih sebesar Rp 8,51 triliun sepanjang Januari-Juni 2026. Capaian tersebut melonjak 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong peningkatan pendapatan, efisiensi operasional, dan transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan.
Sepanjang semester I 2026, Pupuk Indonesia juga mencatatkan pendapatan sebesar Rp 59,67 triliun atau tumbuh 51 persen secara tahunan. Sementara itu, EBITDA meningkat 140 persen menjadi Rp 14,28 triliun seiring kenaikan volume produksi dan penerapan efisiensi biaya operasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, kinerja tersebut merupakan hasil transformasi bisnis dan penerapan disiplin biaya yang dijalankan perusahaan di bawah supervisi Danantara Indonesia.
“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad dalam keterangan tertulisnya, dikutip pada Selasa (14/7).
Menurut dia, efisiensi operasional dan pengendalian biaya yang dijalankan secara konsisten sesuai agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuat perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan, terlepas dari fluktuasi harga komoditas.
Untuk memperkuat ketahanan bisnis, Pupuk Indonesia menerapkan diversifikasi sumber pendapatan dengan meningkatkan kontribusi segmen non-subsidi dan produk non-pupuk. Perusahaan juga memperluas sumber pasokan serta skema kontrak bahan baku guna mengurangi dampak volatilitas harga komoditas global terhadap struktur biaya.
Transformasi perusahaan turut dilakukan melalui penguatan operational excellence, digitalisasi, penyederhanaan holding business streamlining, optimalisasi distribusi public service obligation (PSO), hingga penguatan bisnis komersial. Dari sisi tata kelola, transformasi tersebut didukung Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang disebut menjadi landasan peningkatan efisiensi operasional perusahaan.
Ke depan, Pupuk Indonesia juga menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang sebagai bagian dari optimalisasi portofolio aset BUMN. Selain itu, perusahaan akan mengembangkan sejumlah bisnis baru, antara lain metanol beserta turunannya, clean ammonia, dan industrial support.
Di sektor pelayanan publik, transformasi perusahaan disebut turut berdampak pada penyaluran pupuk bersubsidi. Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi atau meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers dan penyederhanaan tata kelola melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025.
Hingga 12 Juli 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 5,13 juta ton atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
“Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan,” ungkap Rahmad.
Pupuk Indonesia menyatakan efisiensi dan optimalisasi aset akan terus menjadi strategi utama perusahaan untuk menjaga daya saing dalam jangka panjang. Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan menilai pasokan pupuk domestik tetap aman sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global.
“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkas Rahmad.(*)






