Alarm Ekonomi Menyala? Rupiah Rp 18.100 Dibayangi Inflasi yang Berpeluang Naik Lagi

oleh -64 Dilihat
RUPIAH

TEKANAN terhadap ekonomi Indonesia datang dari dua sisi. Ketika nilai tukar rupiah masih bergerak melemah di kisaran Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), inflasi domestik mulai menunjukkan kenaikan. Kombinasi pelemahan kurs dan meningkatnya tekanan harga kini nesti menjadi perhatian serius. Sebab, berpotensi makin menggerus daya beli masyarakat sekaligus mempersempit ruang kebijakan moneter.

Pada perdagangan Selasa (14/7) hari ini, rupiah spot dibuka di level Rp 18.116 per dolar AS, melemah tipis 0,04% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.109 per dolar AS.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 meningkat menjadi 3,34% secara tahunan (year on year/yoy), naik dibandingkan Mei 2026 sebesar 3,08% yoy. Secara bulanan, inflasi Juni tercatat 0,44%, sementara inflasi tahun berjalan mencapai 1,79%.

Kenaikan inflasi tersebut mulai memperlihatkan adanya tekanan harga yang lebih luas. Inflasi inti Juni naik menjadi 2,76% yoy dari 2,59% pada Mei, sementara kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) meningkat menjadi 3,42% yoy dari 2,07% pada bulan sebelumnya.

Rupiah Lemah Berpotensi Dorong Inflasi Impor

Pelemahan rupiah menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku impor. Ketika dolar menguat, perusahaan yang bergantung pada impor harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli produk yang sama.

Dampaknya dapat terasa pada berbagai sektor, mulai dari energi, industri manufaktur, farmasi, hingga barang konsumsi yang memiliki kandungan impor tinggi.

Tekanan tersebut mulai terlihat pada tingkat harga produsen. BPS mencatat Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) nasional Juni 2026 naik 6,51% yoy, dengan kenaikan harga antara lain terjadi pada komoditas seperti solar industri, elpiji nonsubsidi, beras, solar transportasi, dan getah karet.

Situasi ini membuat Bank Indonesia menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.

Jika tekanan inflasi meningkat akibat pelemahan rupiah, BI memiliki opsi mempertahankan kebijakan moneter ketat atau menaikkan suku bunga kembali untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, suku bunga tinggi juga berisiko menekan kredit, investasi, dan konsumsi masyarakat.

Sebelumnya, BI menegaskan inflasi masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, meski kenaikan inflasi Juni menjadi sinyal yang perlu dipantau terutama jika tekanan nilai tukar berlanjut.

Risiko Terbesar: Inflasi Naik Saat Daya Beli Melemah

Sejumlah Ekonom menilai tantangan terbesar bukan hanya angka inflasi saat ini, tetapi arah pergerakannya. Jika pelemahan rupiah berlangsung lama dan mulai diteruskan ke harga barang, Indonesia berisiko menghadapi kondisi yang lebih sulit. Harga naik sementara konsumsi masyarakat melemah.

Kombinasi rupiah melemah, inflasi meningkat, dan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi skenario yang paling diwaspadai karena dapat menekan kelas menengah dan memperlambat pemulihan konsumsi domestik.

Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan tidak hanya akan bergantung pada faktor global seperti arah dolar AS dan kebijakan suku bunga Amerika, tetapi juga kemampuan pemerintah menjaga inflasi pangan, energi, serta kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.