Dari Luka Barca ke Final Piala Dunia: Joan Laporta, Messi, dan Pengakuan Terlambat

oleh -85 Dilihat
JOAN LAPORTA
Joan Laporta, Presiden FC Barcelona

KabarBaik.co- Di antara jutaan orang yang paling bahagia dengan pertemuan Spanyol kontra Argentina di Final Piala Dunia 2027. Ia adalah Joan Laporta, presiden FC Barcelona. Betapa tidak, meski duel itu mempertemukan dua kutub berbeda, Eropa dan Amerika Selatan, namun tidak sedikit yang menyebut final itu sejatinya rasa FC Barcelona.

Begitu banyak pemain timnas Spanyol yang berasal dari Barca, sementara di kubu sebelah, nama Lionel Messti selama ini juga sangat identik dengan FC Barcelona. Maklum, 17 tahun Messi bermain di klub eliter Eropa itu.

Nah, ternyata bagi Joan Laporta, nama Lionel Messi tersebut merupakan salah satu nama yang selalu membuatnya berada dalam posisi sulit.

Bagi sebagian orang, Messi adalah mahakarya terbesar dalam sejarah Barcelona. Bagi Laporta, Messi adalah warisan sekaligus luka. Ia adalah pemain yang membantu klub mencapai puncak kejayaan, tetapi juga sosok yang kepergiannya pada 2021 lalu menjadi salah satu momen paling ”menyakitkan” dalam sejarah modern Blaugrana.

Ironisnya, beberapa tahun setelah hubungan keduanya disebut retak, Laporta kembali berbicara tentang Messi dengan nada penuh penghormatan.

Ketika Argentina bersiap menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2026, presiden Barcelona itu tidak lagi berbicara tentang perpisahan, konflik, atau keputusan masa lalu. Ia justru memuji Messi sebagai pemain luar biasa yang masih mampu menunjukkan kelasnya di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Perubahan nada itupun belakangan menarik perhatian. Sebab hubungan Laporta dan Messi bukan sekadar kisah antara seorang presiden klub dan pemain bintang. Tapi cerita tentang dua simbol terbesar Barcelona yang pernah berada dalam satu era kejayaan, kemudian dipisahkan oleh tekanan finansial, keputusan politik klub, dan keadaan yang tidak ideal.

Dari Anak Pengacara hingga Penguasa Camp Nou

Jauh sebelum namanya dikenal sebagai orang paling berpengaruh di Camp Nou, Joan Laporta hanyalah seorang pengacara muda asal Barcelona yang tumbuh dengan kecintaan mendalam terhadap klub yang kelak ia pimpin.

Lahir di Barcelona pada 29 Juni 1962, Laporta berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia hukum dan kehidupan sosial Catalonia. Ayahnya, Joan Laporta Bonastre, adalah seorang pengacara. Dari lingkungan keluarganya, Laporta tumbuh dengan pemahaman kuat tentang identitas Catalan—nilai yang kemudian menjadi salah satu ciri utama kepemimpinannya di Barcelona.

Namun jalan menuju kursi presiden Barcelona tidak ditempuh melalui jalur konvensional.

Laporta membangun pengaruhnya melalui kombinasi hukum, aktivisme sosial, politik identitas Catalonia, dan kecintaan terhadap klub masa kecilnya.

Namanya mulai dikenal luas ketika ia menjadi salah satu pendiri kelompok oposisi Elefant Blau pada akhir 1990-an. Gerakan itu muncul sebagai kritik terhadap kepemimpinan presiden Barcelona saat itu, Josep Lluís Núñez.

Bagi Laporta, Barcelona bukan hanya klub sepak bola. Baginya, Barcelona adalah institusi budaya, simbol masyarakat Catalonia, dan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan 90 menit. Pandangan itulah yang kemudian membawanya ke kursi tertinggi klub.

Pada 2003, ketika Barcelona berada dalam periode sulit, Laporta maju dalam pemilihan presiden klub dengan membawa janji perubahan. Saat itu, Barcelona bukanlah raksasa sepak bola seperti sekarang. Klub sedang mengalami krisis prestasi, kehilangan arah manajemen, dan membutuhkan identitas baru.

Laporta hadir sebagai figur muda dengan citra modern. Ia menjanjikan transparansi, profesionalisme, dan keberanian melakukan perubahan besar. Kemenangannya menjadi titik balik sejarah klub.

Di bawah kepemimpinannya, Barcelona mulai membangun kembali fondasi kejayaan. Ia menunjuk Frank Rijkaard sebagai pelatih, mendatangkan Ronaldinho, dan perlahan menciptakan lingkungan yang memungkinkan pemain muda seperti Lionel Messi berkembang menjadi bintang dunia.

Barcelona kemudian memasuki salah satu era paling sukses sepanjang sejarahnya. Gelar La Liga kembali datang. Trofi Liga Champions 2005–2006 menjadi bukti kebangkitan klub di panggung Eropa.

Namun warisan terbesar Laporta bukan hanya trofi. Ia adalah presiden yang ikut membuka jalan bagi filosofi sepak bola yang kemudian menjadi identitas Barcelona modern, sepak bola menyerang, pengembangan pemain muda La Masia, dan keberanian memberikan kepercayaan kepada talenta lokal.

Ketika Pep Guardiola membawa Barcelona memasuki era keemasan bersama Messi, Xavi Hernández, Andrés Iniesta, dan generasi emas La Masia, fondasi awalnya telah dibangun pada masa Laporta.

Namun sepak bola selalu berubah. Setelah meninggalkan kursi presiden pada 2010, Laporta kembali ke panggung Barcelona lebih dari satu dekade kemudian dalam situasi yang jauh berbeda. Pada 2021, ia memenangkan pemilihan presiden klub untuk kedua kalinya.

Tetapi kali ini ia tidak mewarisi klub yang sedang berjaya. Ia datang ke Barcelona yang terlilit masalah ekonomi, memiliki beban finansial besar, dan menghadapi masa depan Lionel Messi yang tidak pasti.

Banyak pendukung berharap Laporta—presiden yang sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan Messi menuju kejayaan—akan menjadi orang yang mempertahankan sang legenda.

Sayag, kenyataan berkata lain. Barcelona gagal memenuhi persyaratan finansial untuk memperpanjang kontrak Messi. Klub mengumumkan kepergian pemain Argentina itu setelah bertahun-tahun bersama. Messi pergi.

Barcelona kehilangan wajah utamanya. Dan Laporta menjadi sosok yang paling banyak menerima kritik. Bagi sebagian penggemar, keputusan itu adalah kegagalan terbesar kepemimpinannya. Namun bagi Laporta, keputusan tersebut adalah konsekuensi pahit yang harus diambil demi menyelamatkan masa depan klub.

Hubungan keduanya pun berubah. Laporta pernah mengakui bahwa relasinya dengan Messi tidak lagi seperti sebelumnya setelah proses kepergian sang pemain. Tetapi satu hal tidak pernah berubah. dia tetap mengakui Messi sebagai legenda terbesar Barcelona.

Membangun Barcelona Tanpa Messi

Setelah era Messi berakhir, Laporta berusaha menciptakan Barcelona versi baru. Dia mengarahkan klub menuju regenerasi dengan mengandalkan pemain muda seperti Lamine Yamal, memperkuat kembali identitas La Masia, serta berusaha mengembalikan stabilitas finansial klub.

Tantangannya tidak mudah. Barcelona harus bersaing dalam sepak bola modern yang semakin dipengaruhi kekuatan finansial, investasi besar, dan persaingan global.

Namun Laporta tetap mempertahankan keyakinannya bahwa Barcelona tidak boleh kehilangan karakter. Baginya, klub ini harus tetap menjadi tempat di mana pemain muda mendapatkan kesempatan dan filosofi permainan tetap menjadi bagian dari identitas.

Piala Dunia 2026 menghadirkan panggung baru bagi Messi. Di usia yang sudah memasuki akhir karier, banyak yang mempertanyakan apakah sang megabintang masih mampu bersaing di level tertinggi. Jawabannya hadir di lapangan.

Messi kembali menjadi pusat perhatian ketika Argentina melangkah menuju final melawan Spanyol. Bukan hanya karena namanya besar, tetapi karena ia masih mampu memberikan pengaruh besar bagi tim nasionalnya.

Di tengah sorotan global itu, Laporta memberikan penghormatan.  Dia menyebut Messi sebagai pemain luar biasa dan mengakui kualitas sang legenda yang masih mampu membuat perbedaan. Komentar itupun menjadi simbol perubahan.

Dulu, Laporta dan Messi adalah dua pihak yang berada dalam pusaran konflik. Kini, keduanya kembali dipertemukan oleh sejarah. Messi mungkin tidak kembali mengenakan seragam Barcelona. Namun bagi Laporta, tidak ada keputusan politik atau masalah finansial yang dapat menghapus fakta bahwa Messi adalah bagian terbesar dari kejayaan klub.

Presiden, Politikus, dan Penjaga Identitas Barcelona

Joan Laporta adalah sosok yang sulit dipisahkan dari Barcelona. Ia adalah presiden yang membawa klub menuju kejayaan besar. Ia juga presiden yang harus menghadapi salah satu keputusan paling berat dalam sejarah klub.

Ia adalah seorang pengacara yang berubah menjadi pemimpin institusi olahraga global. Ia adalah politisi klub yang memahami bahwa Barcelona bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang identitas dan emosi jutaan orang.

Pendukungnya melihatnya sebagai pemimpin visioner yang berani mengambil keputusan besar. Kritikusnya melihatnya sebagai figur kontroversial yang selalu berada di tengah pusaran politik klub.

Namun satu hal sulit dibantah: pengaruh Joan Laporta terhadap Barcelona sangat besar. Dari seorang pengacara muda yang berdiri di luar lingkar kekuasaan klub, ia berubah menjadi orang yang menentukan arah salah satu klub terbesar di dunia.

Dan kisahnya dengan Lionel Messi mungkin menjadi gambaran terbaik tentang perjalanan Laporta sendiri. Tentang kejayaan. Tentang keputusan sulit. Tentang hubungan yang retak. Dan tentang bagaimana, pada akhirnya, sejarah selalu memberi ruang bagi rasa hormat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.