KabarBaik.co, AS – Kamis (16/7) dini hari, pukul 02.00 WIB, di Atlanta Stadium, semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu laga paling emosional dan simbolis dalam sejarah turnamen. Inggris melawan Argentina. Duel ini bukan hanya pertarungan dua tim kuat. Namun, bentrokan antara akhir sebuah era keemasan Lionel Messi dan kebangkitan generasi baru yang dipimpin Jude Bellingham.
Di tengah riuh ambisi juara, sebuah pertanyaan besar pun menggantung. Apakah Bellingham mampu mengakhiri magic terakhir Messi, sekaligus mewujudkan mimpi Football Coming Home yang telah lama dinanti Inggris?
Mafhum, Football Coming Home lebih dari sekadar chant stadion. Frasa itu ungkapan harapan, kebanggaan, dan sedikit kepedihan yang telah mengiringi sepak bola Inggris selama puluhan tahun. Frasa ikonik yang lahir pada tahun 1996 melalui lagu Three Lions, yang diciptakan khusus untuk Euro 1996, yang digelar di tanah Inggris sendiri.
Maknanya sangat dalam. Inggris adalah rumah lahirnya sepak bola modern. Pada 26 Oktober 1863, di sebuah ruangan di London, The Football Association menyusun aturan resmi pertama yang menjadi fondasi sepak bola seperti yang dikenal sekarang. Karena itu, Inggris disebut The Home of Football. Ketika mereka menjadi juara dunia pada 1966 di Wembley, rasanya seperti segalanya telah sempurna.
Namun sejak saat itu, trofi besar seolah-olah “pergi meninggalkan rumah”. Final Euro 2020, Euro 2024, serta berbagai Piala Dunia selalu berakhir dengan kekecewaan di penghujung jalan. Football Coming Home kemudian menjadi doa bersama jutaan suporter Inggris, sebuah asa bahwa suatu hari nanti, bola emas itu akan kembali ke tempat asalnya, ke negeri yang melahirkannya.
Kini, di semifinal Piala Dunia 2026, frasa itu pun kembali menggema. Bahkan, jauh lebih keras. Dengan Bellingham sebagai pemimpin muda yang penuh ambisi, Inggris merasa momentum ini berbeda. Bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kesempatan nyata untuk mengakhiri puasa gelar selama 60 tahun.
Bellingham baru berusia 22 tahun. Tapi, dia telah menjelma menjadi pemimpin The Three Lions di Piala Dunia ini. Sejak fase grup, gelandang asal Real Madrid itu konsisten menjadi otak serangan sekaligus penghancur lawan di lini tengah. Statistik menunjukkan Bellingham rata-rata menciptakan lebih dari 2,5 peluang per pertandingan di turnamen ini. Angka yang termasuk tertinggi di antara semua gelandang yang masih tersisa.
Angka tersebut menjadi satu indikator kemampuannya membaca permainan, duel udara yang kuat, dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Hal itu membuatnya menjadi pusat harapan Inggris.
Di perempat final melawan Norwegia, Bellingham kembali menjadi pahlawan. Gol-gol pentingnya dan kepemimpinannya membantu Inggris bangkit dan lolos lewat extra time. Thomas Tuchel, pelatih Inggris, berulang kali memuji Bellingham sebagai “pemimpin alami” yang mampu mengubah mentalitas tim, yang selama ini kerap dikritik karena gagal di momen krusial. Bagi generasi muda Inggris, Bellingham kini menjadi figur yang diharapkan bisa mengakhiri puasa gelar besar sejak Piala Dunia 1966.
Sementara itu, di kubu Argentina, Messi menghadapi babak yang sangat mungkin menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Di usia 39 tahun, Messi tetap menjadi magnet utama Albiceleste. Meski kecepatannya sudah tidak seperti dulu, visi permainan, ketepatan umpan, dan insting mencetak golnya masih sulit ditandingi.
Messi Magic telah membawa Argentina lolos dari beberapa pertandingan ketat di fase knockout. Termasuk kemenangan dramatis di perempat final melawan Swiss. Argentina sebagai juara bertahan datang dengan pengalaman luar biasa di panggung besar. Mereka belum pernah kalah di semifinal Piala Dunia sejak 1930 ketika akhirnya mencapai final.
Sejarah pertemuan Inggris dan Argentina selalu penuh warna dan kontroversi. Mulai dari kekalahan menyakitkan akibat Hand of God Diego Maradona pada Piala Dunia 1986, hingga duel sengit di 1998 yang melibatkan David Beckham. Rivalitas ini selalu menyajikan cerita epik.
Kini, narasi tersebut bertemu dengan ambisi Inggris yang membawa beban Football Coming Home. Sejak final Euro 2020 dan Euro 2024, Inggris selalu mendekati gelar besar namun gagal di penghujung. Nah, kali ini dengan skuad yang lebih muda dan dinamis, termasuk Harry Kane sebagai pencetak gol utama serta Bukayo Saka yang tajam di sayap, Inggris merasa waktu yang tepat telah tiba.
Menurut proyeksi dan analisis mendalam sejumlah kalangan menjelang semifinal, Argentina masih sedikit diunggulkan. Lebih berpengalaman di fase gugur. Namun, Inggris memiliki keunggulan di kekuatan fisik, kedalaman skuad, dan performa kolektif yang semakin matang di bawah arahan Tuchel.
Secara taktis, salah satu duel paling menentukan akan terjadi di lini tengah. Declan Rice dan Jude Bellingham diperkirakan menjadi motor permainan Inggris, baik saat membangun serangan maupun memutus aliran bola lawan. Di sisi lain, Argentina mengandalkan keseimbangan yang dibangun Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister untuk menjaga tempo sekaligus membuka ruang bagi Messi. Siapa yang mampu menguasai lini tengah kemungkinan besar akan mengendalikan ritme pertandingan.
Inggris juga diprediksi berusaha membatasi ruang gerak Messi sejak menerima bola. Alih-alih menempel ketat sepanjang pertandingan, pendekatan yang lebih realistis adalah mempersempit area bermain sang kapten Argentina dengan pressing kolektif dan transisi bertahan yang cepat. Sebab, meski tak lagi mengandalkan kecepatan seperti pada masa mudanya, Messi tetap memiliki kemampuan membaca ruang dan melepaskan umpan-umpan yang mampu mengubah jalannya pertandingan hanya dalam sekejap.
Sebaliknya, Argentina tentu mewaspadai kekuatan Inggris dari sektor sayap. Kecepatan Bukayo Saka, dukungan full-back yang agresif, serta ketajaman Harry Kane dalam memanfaatkan peluang menjadi ancaman utama bagi pertahanan Albiceleste.
Karena itu, pertandingan diperkirakan berlangsung dengan tempo tinggi, di mana kedua tim akan berusaha memaksimalkan transisi menyerang tanpa kehilangan keseimbangan saat bertahan. Detail-detail kecil, mulai dari duel satu lawan satu hingga bola mati, sangat mungkin menjadi pembeda dalam laga sebesar semifinal Piala Dunia.
Pertandingan ini pun diprediksi berjalan ketat. Bahkan, kemungkinan besar memasuki extra time atau bahkan adu penalti. Nah, situasi di mana pengalaman Argentina sering menjadi penentu.
Pemenang laga ini akan menghadapi pemenang semifinal lain. Yakni, Prancis dan Spanyol di partai puncak. Bagi Bellingham, momentum ini menjadi kesempatan emas untuk menorehkan namanya dalam sejarah sepak bola Inggris.
Kalau berhasil mengalahkan Argentina dan kemudian juara, maka nama Bellingham akan menjadi ikon baru. Mengakhiri puasa gelar selama enam dekade. Sementara itu, Messi pun tentu berusaha menulis babak akhir yang sempurna, mempertahankan mahkota juara dunia dan meninggalkan warisan yang tak terlupakan.
Pada akhirnya, Kamis dini hari nanti, dunia sepak bola akan menyaksikan apakah generasi baru yang diwakili Bellingham mampu mengakhiri kisah magis Messi. Apakah Football Coming Home akhirnya terwujud, atau sekali lagi legenda Argentina membuktikan bahwa magic sejati sulit dipadamkan?
Apapun hasilnya, laga Inggris melawan Argentina dipastikan akan menjadi salah satu semifinal paling berkesan dalam sejarah Piala Dunia, dan beberapa kalangan pun mengingat kembali panasnya ’’Perang Malvinas’’ (*).
Head-to-Head Argentina vs Inggris
- 1966: Perempat final, Inggris menang 1-0 dalam laga panas yang diwarnai kartu merah kapten Argentina, Antonio Rattin.
- 1986: Perempat final, Argentina menang 2-1, menampilkan gol “Tangan Tuhan” dan gol solo terbaik abad itu oleh Diego Maradona.
- 1998: Babak 16 besar, berakhir imbang 2-2 selama 120 menit, Argentina lolos ke perempat final setelah menang adu penalti 4-3.
- 2002: Fase grup, Inggris menang 1-0 lewat eksekusi penalti David Beckham.






