Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina: Ironi Indah Sepak Bola, Finalissima yang Tertunda

oleh -90 Dilihat
SPANYOL ARGENTINA

KabarBaik.co –  Ketika Spanyol dan Argentina melangkah ke Final Piala Dunia 2026 pada Senin (20/7) dini hari WIB, dunia seolah sedang menyaksikan pertandingan yang sesungguhnya sudah dijadwalkan berlangsung beberapa bulan sebelumnya, tetapi tak pernah dimainkan.

Bukan karena kedua tim gagal bertemu. Bukan pula karena salah satunya tersingkir, melainkan karena pertandingan yang diberi nama Finalissima itu keburu dibatalkan.

Kini, takdir justru mempertemukan kedua negara tersebut di panggung yang jauh lebih megah. Yakni, final Piala Dunia.

Jika Finalissima adalah laga untuk menentukan penguasa Eropa dan Amerika Selatan, maka Final Piala Dunia menghadirkan pertarungan yang jauh lebih tinggi nilainya: menentukan raja sepak bola dunia.

Apa sebenarnya Finalissima? Bagi sebagian pecinta sepak bola, istilah Finalissima mungkin masih terdengar baru. Padahal kompetisi ini bukanlah gagasan baru.

Finalissima adalah pertandingan resmi yang mempertemukan juara Piala Eropa melawan juara Copa América, diselenggarakan bersama oleh UEFA dan CONMEBOL sebagai ajang adu supremasi dua konfederasi terbesar dalam sepak bola dunia.

Nama Finalissima sendiri berasal dari bahasa Italia. Kata dasarnya adalah finale, yang berarti “partai final”. Sementara akhiran -issima merupakan bentuk superlatif feminin dalam bahasa Italia, yang berarti “paling”, “teragung”, atau “sangat”.  Secara harfiah, Finalissima dapat dimaknai sebagai “final yang paling agung”, “grand final”, atau “ultimate final”.

Pilihan nama itu bukan tanpa alasan. UEFA ingin memberikan identitas baru bagi pertandingan antarbenua yang sebelumnya dikenal sebagai Artemio Franchi Cup, sekaligus menegaskan bahwa duel tersebut bukan sekadar laga persahabatan, melainkan pertemuan dua juara dari benua yang paling dominan dalam sejarah sepak bola.

Berawal dari Piala Artemio Franchi

Sejarah Finalissima sesungguhnya dimulai jauh sebelum Lamine Yamal lahir. Pada 1985, UEFA dan CONMEBOL menggelar Artemio Franchi Cup, mempertemukan Prancis sebagai juara Euro 1984 melawan Uruguay, kampiun Copa América 1983. Prancis menang 2-0 di Paris.

Delapan tahun kemudian, edisi kedua berlangsung pada 1993. Argentina yang diperkuat Diego Maradona mengalahkan Denmark melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1.

Setelah itu, kompetisi tersebut menghilang dari kalender internasional karena FIFA lebih memfokuskan perhatian kepada Piala Konfederasi.

Barulah pada 2022, UEFA dan CONMEBOL menghidupkan kembali pertandingan tersebut dengan nama baru: Finalissima.

Di Wembley, Argentina menghancurkan Italia 3-0. Lionel Messi tampil gemilang dan membawa Albiceleste meraih trofi yang kemudian menjadi pembuka jalan menuju gelar Piala Dunia Qatar 2022.

Nah, ketika Spanyol menjuarai Euro 2024 dan Argentina mempertahankan mahkota Copa Amerika pada tahun yang sama, dunia langsung menantikan Finalissima berikutnya. Laga itu semula dijadwalkan berlangsung di Stadion Lusail, Qatar, pada 27 Maret 2026.

Namun situasi keamanan di Timur Tengah memaksa Qatar tidak lagi memungkinkan menjadi tuan rumah. UEFA dan CONMEBOL kemudian berusaha mencari alternatif, tetapi negosiasi mengenai lokasi dan jadwal baru tidak pernah mencapai kesepakatan.

Pada 15 Maret 2026, UEFA akhirnya mengumumkan bahwa Finalissima resmi dibatalkan. Tidak ada juara. Tidak ada trofi yang diangkat. Edisi 2026 pun tercatat sebagai kompetisi yang tak pernah dimainkan.

Sepak bola sering menghadirkan kisah yang sulit ditulis oleh penulis skenario mana pun. Beberapa bulan setelah Finalissima batal, Spanyol dan Argentina justru sama-sama melaju hingga partai puncak Piala Dunia 2026.

Mereka akhirnya bertemu. Namun bukan lagi untuk memperebutkan trofi antarbenua. Melainkan trofi paling bergengsi dalam sepak bola.

Dalam konteks inilah, Final Piala Dunia 2026 layak disebut sebagai “Finalissima yang tertunda”. Bukan dalam arti resmi, melainkan sebagai gambaran bahwa duel yang sempat gagal terlaksana akhirnya terjadi di panggung yang bahkan lebih besar.

Yang diperebutkan kini bukan sekadar supremasi Eropa atau Amerika Selatan. Yang diperebutkan adalah mahkota dunia.  Ironi sejarah itu membuat final ini memiliki lapisan makna yang lebih dalam dibanding sekadar pertandingan sepak bola.

Spanyol datang sebagai juara Eropa. Argentina hadir sebagai juara Amerika Selatan sekaligus juara bertahan dunia.  Andaikan Finalissima benar-benar dimainkan pada Maret lalu, pemenangnya hanya akan menyandang status juara antarbenua bukan?.

Namun takdir memilih jalan lain. Kini, hanya dalam waktu 90 menit—atau mungkin lebih—dunia akhirnya akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sempat tertunda. Siapa yang sesungguhnya paling layak disebut raja sepak bola dunia? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.