Musim Kemarau Jadi Berkah, Petani Porang di Bojonegoro Nikmati Lonjakan Harga

oleh -397 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 04 at 1.59.55 PM
Petani memanen umbi porang di tengah hutan (Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Musim kemarau yang kerap menjadi tantangan bagi sebagian petani justru membawa kabar baik bagi para petani porang di Desa Klino, Sekar, Bojonegoro. Tahun ini, mereka menikmati hasil panen yang lebih menguntungkan setelah harga umbi porang mengalami kenaikan signifikan dibandingkan musim panen tahun lalu.

Di kawasan perbukitan yang berbatasan dengan hutan, hamparan tanaman porang tumbuh subur di lahan garapan milik kelompok tani hutan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Madiun ini. Tanaman yang beberapa tahun terakhir menjadi komoditas andalan masyarakat itu kini kembali memberikan harapan bagi petani setelah sempat mengalami fluktuasi harga.

Salah satu petani porang di Desa Klino, Roni, merasakan langsung manfaat kenaikan harga tersebut. Pria yang telah lama membudidayakan porang itu mengaku tahun ini menjadi salah satu musim panen terbaik yang pernah ia rasakan.

“Alhamdulillah, harga porang sekarang cukup bagus. Dulu sempat hanya sekitar Rp 7 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp 13 ribu per kilogram,” ujarnya dengan wajah semringah, Kamis (4/6).

Di Kecamatan Sekar, porang memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Selain bertani padi dan jagung, banyak warga memanfaatkan lahan Perhutani untuk menanam tanaman hutan bernilai ekonomi tinggi tersebut. Mereka tergabung dalam kelompok tani hutan yang mengelola lahan secara produktif.

Menurut Roni, rata-rata anggota kelompok tani menggarap lahan seluas satu hektare yang ditanami porang. Dari luas lahan tersebut, petani dapat memanen hingga 10 ton umbi porang dalam satu kali musim panen.

“Hasilnya rata-rata bisa mencapai 10 ton per hektare. Dengan harga saat ini, tentu sangat membantu meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

Meski menjanjikan keuntungan, budidaya porang membutuhkan kesabaran. Untuk menghasilkan umbi yang siap dipanen, petani memerlukan waktu sekitar enam bulan jika menggunakan bibit berupa umbi. Sementara jika menggunakan bulbil atau yang biasa disebut umbi katak, masa panennya bisa mencapai dua hingga tiga tahun.

Karena alasan efisiensi, sebagian besar petani di Desa Klino memilih menggunakan bibit umbi meskipun harganya relatif lebih mahal. Cara tersebut dinilai lebih cepat menghasilkan panen dan memberikan kepastian usaha bagi petani.

Untuk menanam porang di lahan seluas satu hektare, petani membutuhkan sekitar tiga ton bibit umbi. Dari jumlah tersebut, hasil panen yang diperoleh bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat atau sekitar 10 ton umbi porang.

Perubahan juga terjadi pada sistem pemasaran hasil panen. Jika sebelumnya petani harus mengirim hasil panennya ke Kabupaten Madiun, kini para pembeli dan tengkulak justru datang langsung ke Desa Klino.

“Kami sekarang tidak perlu jauh-jauh menjual porang ke Madiun. Banyak tengkulak yang datang langsung ke sini untuk membeli hasil panen petani,” tutur Roni.

Kemudahan pemasaran tersebut semakin menguntungkan petani karena dapat memangkas biaya distribusi sekaligus mempercepat proses penjualan hasil panen.

Menariknya, tidak seluruh hasil panen dijual. Dari sekitar 10 ton porang yang dipanen setiap hektare, petani umumnya menjual sekitar tujuh ton. Sementara sisanya disimpan sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.

Langkah itu menjadi strategi sederhana yang selama ini dilakukan petani agar budidaya porang tetap berkelanjutan tanpa harus membeli seluruh kebutuhan bibit dari luar daerah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.