KabarBaik.co, Surabaya – Ada kalimat sederhana yang belakangan menarik perhatian banyak orang di media sosial. Bukan pengumuman peluncuran kapal baru ataupun kabar ekspansi perusahaan, melainkan sebuah ucapan perpisahan. “Berpisah bukanlah akhir, tapi awal dari perjalanan baru.”
Kalimat itu diunggah oleh PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS), perusahaan galangan kapal yang telah menjadi bagian dari sejarah industri maritim Indonesia selama lebih dari satu abad.
Bagi sebagian orang, unggahan itu mungkin hanya penanda berakhirnya operasional sebuah perusahaan. Namun bagi mereka yang pernah bekerja, belajar, hingga menggantungkan hidup di kawasan galangan kapal tersebut, pesan itu terasa jauh lebih dalam.
PT Dok dan Perkapalan Surabaya bukan sekadar perusahaan. Berdiri sejak 1910, galangan kapal ini telah melewati berbagai zaman, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Indonesia. Selama puluhan tahun, ribuan kapal dibangun maupun diperbaiki di kawasan itu.
Di Jalan Perak Barat, Surabaya, bangunan tua bertuliskan “ANNO 1910” masih berdiri kokoh. Di balik tembok-tembok itu tersimpan cerita para pekerja lintas generasi, mulai dari tukang las, juru gambar kapal, hingga para pelajar teknik yang menjadikan galangan tersebut sebagai tempat pertama mengenal dunia industri.
Bagi mahasiswa Teknik Perkapalan ITS, DPS selama bertahun-tahun menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Di sanalah teori bertemu praktik, dan banyak insinyur muda mengawali perjalanan profesionalnya. Kini, aktivitas yang dulu begitu hidup perlahan berhenti.
Berawal dari Persoalan Keuangan
Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik Agus M Maksum menilai publik memang mengetahui bahwa DPS menghadapi persoalan utang. Namun menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dilihat semata-mata dari sisi angka.
Ia mencatat proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 2021 dipicu tagihan sekitar Rp 3,3 miliar dari dua kreditur.
“Pertanyaannya bukan sekadar mengapa perusahaan berutang, tetapi bagaimana aset industri strategis yang telah berdiri lebih dari satu abad akhirnya harus menghadapi proses hukum karena nilai yang relatif kecil dibanding aset yang dimilikinya,” dikutip dalam dari Agus Maksum dalam catatannya, Kamis (9/7).
Menurutnya, persoalan tersebut memunculkan diskusi lebih luas mengenai cara negara memandang industri galangan kapal sebagai sektor strategis.
Lebih dari Sekadar Perusahaan
Dalam pandangan Agus, galangan kapal memiliki posisi penting bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Karena itu, keberlangsungan industri tersebut tidak hanya dipandang dari sisi bisnis, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan industri maritim nasional.
Ia membandingkan kebijakan sejumlah negara seperti China dan Korea Selatan yang selama bertahun-tahun memberikan berbagai bentuk dukungan kepada industri galangan kapal melalui subsidi, pembiayaan, hingga insentif.
Sebaliknya, industri galangan dalam negeri menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan bahan baku impor, kenaikan biaya energi, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga ketatnya persaingan global.
“Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nasib sebuah perusahaan, tetapi juga kemampuan bangsa mempertahankan industri perkapalan nasional,” ujarnya.
Perjalanan Panjang Hingga Pailit
Perjalanan PT Dok dan Perkapalan Surabaya berlangsung sangat panjang. Didirikan pada 1910 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perusahaan itu kemudian dikuasai Jepang saat Perang Dunia II. Setelah Indonesia merdeka, galangan tersebut dinasionalisasi pada 1961 sebelum berubah menjadi perusahaan persero pada 1976.
Selama puluhan tahun, ratusan kapal diproduksi maupun menjalani perawatan di fasilitas tersebut.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tekanan keuangan. Setelah menjalani proses restrukturisasi dan pengelolaan aset, akhirnya Pengadilan Niaga menjatuhkan putusan pailit pada 3 Juni 2026.
Bagi Agus, proses tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan rangkaian panjang persoalan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Jadi Catatan bagi Industri Maritim
Pailitnya PT Dok dan Perkapalan Surabaya menjadi pengingat bahwa membangun industri maritim tidak hanya soal membangun pelabuhan atau memperbanyak armada kapal, tetapi juga menjaga keberlangsungan industri penunjangnya.
Di balik bangunan tua bertuliskan “ANNO 1910”, tersimpan sejarah panjang tentang lahirnya para pekerja galangan, insinyur, hingga perjalanan industri perkapalan Indonesia.
Kini aktivitasnya memang berhenti. Namun kisah PT Dok dan Perkapalan Surabaya menyisakan pertanyaan yang layak menjadi bahan refleksi bersama: bagaimana menjaga agar industri strategis yang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa tetap mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. (*)






