KabarBaik.co, Surabaya – Industri mebel nasional terus berupaya meningkatkan daya saing di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan pasar yang semakin ketat. Di tengah tantangan tersebut, transformasi teknologi dinilai menjadi langkah penting agar industri furnitur Indonesia mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas produk untuk menembus pasar ekspor yang lebih luas.
Data industri menunjukkan prospek sektor furnitur nasional masih cukup menjanjikan. Sepanjang 2025, nilai ekspor furnitur Indonesia mencapai sekitar US$ 1,8 miliar. Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor dengan pangsa lebih dari 54 persen, disusul negara-negara Uni Eropa, Jepang, dan Australia.
Meski demikian, pelaku industri menilai capaian tersebut masih bisa ditingkatkan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah efisiensi produksi agar produk furnitur nasional mampu bersaing dengan negara-negara produsen lain, baik dari sisi harga maupun kualitas.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan penguatan industri mebel saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Industri juga harus didukung oleh ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku, teknologi produksi, hingga rantai pasok yang efisien.
Menurutnya, adaptasi terhadap teknologi produksi, otomasi, dan inovasi proses finishing menjadi faktor penting untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar global.
“Adaptasi terhadap teknologi produksi, otomasi, hingga inovasi finishing menjadi faktor penting agar pelaku industri nasional mampu meningkatkan efisiensi, kualitas, dan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar global,” ujar Abdul Sobur ditemui di Surabaya, Kamis (4/6).
HIMKI yang memiliki sekitar 2.500 anggota terus mendorong terbentuknya ekosistem industri yang saling terhubung. Sebab, persaingan industri saat ini tidak lagi hanya terjadi antarperusahaan, melainkan antar ekosistem yang mampu menghadirkan efisiensi dan inovasi secara berkelanjutan.
Sobur menilai masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan industri furnitur nasional, salah satunya persepsi pasar bahwa harga produk furnitur Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara pesaing. Karena itu, peningkatan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi menjadi langkah strategis agar produk nasional tetap kompetitif tanpa mengurangi kualitas dan nilai tambahnya.
Hal senada disampaikan Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung. Menurutnya, penggunaan mesin modern dan teknologi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda apabila industri mebel Indonesia ingin meningkatkan produktivitas sekaligus memperbesar pangsa pasar ekspor.
“Machinery dan teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas industri. Melalui adopsi teknologi, pelaku usaha dapat mempercepat produksi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar ekspor,” kata Daswar.
Transformasi tersebut mencakup penggunaan berbagai teknologi manufaktur modern, mulai dari sistem otomasi produksi, mesin pengeboran otomatis, teknologi pelapisan dan finishing, hingga solusi digital yang mampu meningkatkan presisi dan konsistensi kualitas produk.
Pemanfaatan teknologi juga dinilai mampu mempercepat proses produksi, menekan biaya operasional, mengurangi kesalahan kerja, serta menjawab tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan kualitas dan ketepatan waktu pengiriman.
Jawa Timur sendiri menjadi salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam pengembangan industri mebel nasional. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi furnitur dan industri pengolahan kayu terbesar di Indonesia dengan jaringan distribusi yang menjangkau berbagai daerah di dalam maupun luar negeri.
Kebutuhan terhadap mesin modern dan teknologi manufaktur presisi pun terus meningkat seiring pertumbuhan sentra industri mebel di kawasan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa modernisasi industri menjadi kebutuhan nyata untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor furnitur nasional.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat transformasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, investor, dan asosiasi industri berkumpul dalam Indowood Expo 2026 yang digelar di Grand City Convention & Exhibition Surabaya pada 4-6 Juni 2026. Pameran tersebut menjadi sarana mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri untuk memperluas kolaborasi, investasi, serta transfer teknologi.
Selain menghadirkan berbagai teknologi terbaru di bidang pengolahan kayu dan manufaktur furnitur, kegiatan tersebut juga dilengkapi seminar dan forum diskusi yang membahas tren industri, inovasi produksi, serta strategi peningkatan daya saing industri mebel Indonesia di pasar global.
Pelaku industri berharap penguatan teknologi, investasi, dan kolaborasi antar rantai pasok dapat menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperbesar pangsa pasar ekspor dan memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen furnitur utama dunia. (*)






