KabarBaik.co, Surabaya – Bank Indonesia (BI) terus mendorong pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan komoditas perkebunan berorientasi ekspor, seperti kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026, yang dinilai mampu memperkuat ekonomi daerah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim Rifki Ismal mengatakan perekonomian dunia masih menghadapi berbagai tantangan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga energi, serta fluktuasi harga komoditas global. Kondisi tersebut turut memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, menurut Rifki, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,39 persen. Sementara itu, ekonomi Pulau Jawa tumbuh 5,79 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
“Khusus Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen. Ini menunjukkan Jawa Timur tetap menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional,” ujar Rifki saat membuka JCFF 2026 di Alun-Alun Surabaya, Jumat (17/7) malam.
Menurutnya, capaian tersebut perlu diperkuat melalui pengembangan sektor-sektor yang memiliki daya saing tinggi, terutama komoditas perkebunan yang memiliki nilai tambah dan potensi ekspor besar.
Rifki menjelaskan Indonesia saat ini merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi sekitar 780 ribu ton per tahun. Di Pulau Jawa, Jawa Timur menjadi sentra produksi terbesar dengan volume sekitar 53 ribu ton per tahun, sedangkan Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing memproduksi sekitar 25 ribu ton.
“Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia merupakan peluang besar yang harus terus diperkuat agar semakin kompetitif di pasar global,” katanya.
Melalui penyelenggaraan JCFF yang memasuki tahun kelima, BI berupaya membangun ekosistem komoditas unggulan berbasis ekspor. Tidak hanya menghadirkan kopi, festival ini juga menampilkan produk teh, kakao, dan rempah-rempah sebagai komoditas yang dinilai berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang.
Selama tiga hari penyelenggaraan, 17–19 Juli 2026, sekitar 50 UMKM binaan Bank Indonesia bersama mitra turut berpartisipasi. Sejumlah pelaku usaha bahkan telah berhasil mengekspor produk kopi, teh, maupun cokelat ke berbagai negara, antara lain Jerman dan Malaysia.
“Festival ini bukan sekadar ajang promosi produk, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara UMKM, investor, pembeli, akademisi, dan komunitas untuk memperluas peluang bisnis, termasuk ekspor,” ujarnya.
Rifki menilai penguatan komoditas berorientasi ekspor menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
“Ke depan, daya tahan ekonomi nasional sangat ditentukan oleh kemampuan mengembangkan potensi ekonomi domestik yang memiliki daya saing internasional,” katanya.
Penyelenggaraan JCFF di Alun-Alun Surabaya juga diharapkan mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Pada pelaksanaan tahun lalu, festival tersebut dikunjungi sekitar 130 ribu orang dengan nilai transaksi mencapai Rp107 miliar dalam tiga hari.
Tahun ini, BI menargetkan jumlah pengunjung maupun nilai transaksi dapat melampaui capaian tersebut. Selain transaksi langsung, sejumlah agenda business matching dengan calon pembeli dari berbagai negara juga masih berlangsung.
Rifki mengungkapkan minat pasar internasional terhadap kopi Indonesia terus meningkat. Sejumlah calon pembeli dari Nigeria, China, dan beberapa negara lainnya mengikuti proses penjajakan kerja sama bisnis selama festival berlangsung.
Dalam mendukung peningkatan daya saing UMKM, BI Jawa Timur saat ini membina sekitar 376 UMKM yang bergerak di sektor ketahanan pangan dan komoditas ekspor. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit, proses produksi, peningkatan kualitas, pengemasan, hingga membuka akses pasar melalui kolaborasi dengan kementerian, pemerintah daerah, serta mitra internasional.
Selain itu, BI juga terus mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mempermudah transaksi perdagangan internasional menggunakan mata uang lokal sehingga pelaku usaha dapat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
“LCT telah diterapkan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Uni Emirat Arab, China, Jepang, dan Korea Selatan. Dalam waktu dekat cakupannya akan diperluas ke India dan Arab Saudi untuk mendukung peningkatan perdagangan dan ekspor Indonesia,” kata Rifki.
Seluruh transaksi selama penyelenggaraan JCFF juga dilakukan secara nontunai menggunakan QRIS sebagai bagian dari percepatan digitalisasi sistem pembayaran.
Mengusung tema ‘From Local Taste to Global Horizon’, BI berharap festival tersebut mampu memperkuat hilirisasi komoditas, meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar global, serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di Jawa Timur.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyambut baik penyelenggaraan JCFF 2026 di Kota Pahlawan. Menurutnya, festival tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha, investor, akademisi, dan komunitas dalam satu ekosistem yang mampu mendorong investasi.
Ia menilai penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional di Surabaya memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan, konsumsi, dan sektor jasa yang pada akhirnya ikut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Semoga festival ini terus diselenggarakan setiap tahun di Surabaya sehingga menjadi wadah promosi produk unggulan Indonesia sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi UMKM untuk naik kelas dan menembus pasar internasional,” kata Eri. (*)






