KabarBaik.co, Surabaya – Banjir rob yang terus melanda kawasan pesisir Surabaya, tepatnya di Kalianak, Krembangan, tak hanya melumpuhkan aktivitas warga. Musibah ini juga sudah puluhan tahun menggenangi lingkungan sekolah dan menjadi penghambat kegiatan belajar mengajar.
Setiap kali air laut pasang, suasana di SD Yayasan Karya Putra berubah drastis. Ruang-ruang kelas terendam air setinggi mata kaki. Para siswa terpaksa melepas sepatu dan hanya memakai sandal, bahkan harus berpindah ke ruangan yang lebih tinggi demi bisa terus belajar. Meski air mencapai setinggi betis orang dewasa, semangat 195 siswa di sekolah ini tak pernah luntur.
Demi menjaga seragam tetap bersih dan kering, orang tua terpaksa menggendong anak-anak mereka saat berangkat maupun pulang sekolah sebuah pemandangan yang kini menjadi rutinitas menyedihkan namun penuh perjuangan di kawasan itu.
Yuli, 44, salah satu guru di sekolah tersebut, menceritakan bahwa pihaknya terus berupaya menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi yang ada. Meskipun dua kelas tergenang parah, sekolah tidak meliburkan siswa karena bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Dua kelas mengalami dampak terparah dengan genangan setinggi mata kaki, namun kami tidak meliburkan siswa karena pembelajaran ini wajib dan bertepatan dengan MPLS,” ujar Yuli, Jumat (17/7).
Banjir rob ini sudah menjadi langganan sejak sekolah berdiri pada tahun 1998, terjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan. Berbagai upaya perbaikan sudah dilakukan, namun keterbatasan biaya membuat penanganan belum maksimal.
“Saat rob datang, para siswa terbiasa memakai sandal, serta harus berangkat dan pulang sekolah dengan digendong oleh orang tua mereka,” tambahnya.
Kekhawatiran justru datang dari guru lainnya, Nanda, 60. Ia mengamati bahwa ketinggian air rob justru semakin meningkat setelah proyek normalisasi Sungai Kalianak yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter di belakang sekolah selesai dikerjakan.

“Kami khawatir karena merasa genangan air yang masuk ke sekolah semakin dalam setelah proyek normalisasi dikerjakan, sehingga kami sangat berharap ada pihak yang peduli dan membantu mengatasi kondisi ini,” harapnya.
Sementara itu, Hendro, warga Kalianak Timur, membenarkan bahwa rob telah mendera wilayah mereka selama 63 tahun, dengan ketinggian air yang bisa mencapai lebih dari 50 sentimeter. Warga kini hanya bisa pasrah dan memantau informasi pasang surut air laut demi mengantisipasi gangguan pada aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak mereka.
“Warga kini hanya bisa pasrah memantau informasi pasang surut demi mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, baik itu terhadap aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak kami,” pungkas Hendro. (*)






