Tak Dapat Murid Baru, SDN Kupang IV Sidoarjo Bertahan dengan 12 Siswa di Sekolah Berdinding Kayu Lapuk

oleh -66 Dilihat
Di ruang kelas sederhana yang dindingnya mulai lapuk dan atapnya berlubang tak memadamkan semangat para siswa SDN Kupang lV Sidoarjo. (Foto: Ist)
Di ruang kelas sederhana yang dindingnya mulai lapuk dan atapnya berlubang tak memadamkan semangat para siswa SDN Kupang lV Sidoarjo. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Suara anak-anak yang belajar di SDN Kupang IV, Dusun Kalialo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, kini tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Sekolah yang berada di kawasan tambak pesisir Sidoarjo itu bahkan mengawali tahun ajaran 2026/2027 tanpa ada satu pun murid baru.

Akibatnya, sekolah tersebut kini hanya dihuni 12 siswa yang tersebar dari kelas II hingga kelas VI. Sementara bangku kelas I dibiarkan kosong karena tidak ada peserta didik yang mendaftar.

Potret sekolah itu pun menyisakan keprihatinan. Di tengah keterbatasan jumlah murid, kondisi bangunan sekolah juga jauh dari kata ideal. Sebagian dinding ruang kelas masih terbuat dari papan kayu yang mulai lapuk.

Beberapa bagian terlihat berlubang, sementara plafon dan atap di sejumlah ruang belajar tampak rusak hingga menyisakan lubang yang berpotensi menimbulkan kebocoran saat hujan turun.

Guru SDN Kupang IV Solekan Tabib, mengatakan minimnya jumlah penduduk menjadi penyebab utama sekolah tidak memperoleh siswa baru pada tahun ajaran ini. Dusun Kalialo yang menjadi lokasi sekolah hanya dihuni sekitar 60 kepala keluarga.

“Untuk tahun ajaran baru ini, kami tidak mendapatkan siswa baru untuk kelas I. Karena di sini juga minim warganya, kurang lebih hanya 60 kepala keluarga,” kata Solekan, Kamis (16/7).

Menurutnya, mayoritas warga setempat bekerja sebagai buruh tambak milik pengusaha dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat jumlah penduduk yang menetap di kawasan itu relatif sedikit, sehingga jumlah anak usia sekolah dasar juga terbatas.

“Mayoritas warga bekerja sebagai buruh tambak. Tambaknya memang ada di sini, tetapi sekitar 95 persen pemiliknya berasal dari luar daerah, seperti Surabaya dan Malang. Warga setempat hanya menjadi buruh tambak atau pandega,” ujarnya.

Menyusutnya jumlah siswa membuat pihak sekolah harus menyesuaikan proses pembelajaran. Beberapa tingkatan kelas digabung dalam satu ruang belajar agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Dari sejumlah ruang yang tersedia, hanya tiga ruang kelas yang masih aktif digunakan.

Meski berada dalam kondisi serba terbatas, semangat belajar para siswa tidak ikut surut. Setiap hari mereka tetap datang ke sekolah yang berada di tengah kawasan tambak, menempuh akses yang tak selalu mudah, terutama saat banjir rob datang.

Salah satunya Muhammad Hafis Amrizal, siswa kelas V. Ia mengaku tetap berangkat ke sekolah menggunakan sepeda meski genangan rob kerap mengganggu akses menuju sekolah.

“Naik sepeda. Dekat dari rumah. Kalau banjir rob tetap masuk sekolah,” ujar Hafis.

Bagi para guru, keberadaan sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga harapan bagi anak-anak pesisir untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena itu, mereka berharap perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada sekolah-sekolah di pusat kota, tetapi juga menyentuh sekolah terpencil yang kondisinya semakin memprihatinkan.

“Kami berharap sekolah seperti ini menjadi prioritas. Kondisinya memang layak mendapat perhatian karena letaknya terpencil,” kata Solekan.

Di tengah sunyinya kawasan tambak Kalialo, belasan anak itu masih setia datang ke sekolah setiap pagi. Mereka mungkin belajar di ruang kelas yang sederhana dan mulai dimakan usia, tetapi mimpi-mimpi mereka tetap tumbuh, menunggu perhatian agar tidak ikut hilang ditelan sepinya waktu.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.