KabarBaik.co, Sidoarjo – Keluh kesah warga Desa Tambakcemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, akibat banjir rob yang kerap meluber hingga kawasan permukiman terus disampaikan. Luapan air laut yang datang hampir setiap tahun membuat warga harus hidup berdampingan dengan jalanan becek dan genangan air yang muncul pada jam-jam tertentu saat air pasang terjadi.
Banjir rob tersebut diketahui sudah terjadi sejak tahun 2017 silam. Namun, kondisi yang dialami warga disebut semakin parah dari tahun ke tahun hingga membuat warga pesisir semakin resah karena aktivitas sehari-hari dan mata pencaharian mereka terganggu.
Ketua LPMD Desa Tambakcemandi, Thohir, 54, mengatakan banjir rob kini menjadi persoalan tahunan yang terus berulang bahkan bisa terjadi beberapa kali dalam setahun. Menurutnya, puncak rob biasanya terjadi pada Mei hingga Juni saat siang hari, kemudian kembali terjadi pada November hingga Desember pada malam hari.
“Sejak dulu sampai sekarang ini enggak ada solusi terbaik untuk penanganan masalah banjir. Yang paling rawan itu sejak 2018 sampai sekarang,” ujar Thohir saat ditemui di lokasi terdampak, Selasa (19/5).
Menurutnya, meski banjir rob hanya berlangsung dalam hitungan jam, dampaknya sangat mengganggu aktivitas warga. Air laut biasanya mulai meluber sekitar pukul 10.00 WIB hingga Sore dengan ketinggian mencapai selutut orang dewasa.
Tak hanya merendam jalan dan permukiman warga, banjir rob juga berdampak besar terhadap sektor pertambakan. Setidaknya terdapat 207 tambak di kawasan pesisir pantai yang kini tidak lagi produktif akibat diterjang rob. Para petambak dipastikan gagal panen dan mengalami kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah.
“Ada 207 pintu tambak yang tidak bisa produktif, gagal panen. Kalau dihitung-hitung dari seluruh tambak yang tidak produktif itu, kerugian bisa mencapai Rp 20 miliar,” jelasnya.
Di wilayah permukiman, rob paling parah dirasakan warga Dusun Gisik Kidul Desa Tambakcemandi meliputi RT 1 hingga RT 4. Sekitar 300 kepala keluarga tercatat terdampak karena rumah mereka terus terendam air laut saat pasang datang. Selain Tambakcemandi, kawasan pertambakan di desa tetangga seperti Kalanganyar juga dilaporkan ikut terdampak luapan air laut.
Menurut Thohir, warga sebenarnya sudah berupaya melakukan penanganan secara mandiri dengan membangun tanggul darurat. Namun tanggul tersebut kerap jebol saat ombak dan debit air meningkat. Di sisi lain, bantuan alat berat yang diajukan warga sejak 2021 disebut belum pernah terealisasi.
“Oh sudah, diberi tanggul cuma jebol lagi, jebol lagi. Cuma bantuan sampai sekarang ini belum ada. Dulu tahun 2021 saya mengajukan backhoe untuk pembenahan, tapi sampai sekarang enggak ada,” keluhnya.
Thohir juga menduga banjir rob yang semakin tinggi setiap tahun dipicu penurunan permukaan tanah atau subsidens di wilayah pesisir Sedati. Ia menyebut kondisi tersebut kemungkinan berkaitan dengan dampak jangka panjang semburan lumpur Lapindo.
“Iya, mungkin dari itu (Lapindo). Sejak dulu itu banjir enggak ada yang seperti ini. Mungkin terdampak dari Lapindo, bisa juga gitu loh karena kontur tanah menurun,” ungkapnya.
Sementara itu, dampak rob juga dirasakan para pedagang di sepanjang jalan desa. Meski genangan air biasanya hanya berlangsung beberapa jam, kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi warga menurun drastis. Banyak warung makan hingga warung cabut duri ikan bandeng memilih tutup karena sepinya pembeli saat banjir datang.
Salah satu pedagang warung makan, Kholifah, 42, mengaku pendapatannya menurun sejak rob semakin sering terjadi. Biasanya, akhir pekan menjadi waktu paling ramai karena banyak pemancing mampir untuk makan usai beraktivitas di kawasan tambak.
“Biasanya Sabtu Minggu ramai, habis mancing orang-orang mampir makan di sini. Tapi sekarang sejak ada rob jarang yang mau mancing dan mampir ke tempat makan kami,” ujar Kholifah.
Warga pun berharap Pemkab Sidoarjo segera memberikan perhatian serius dengan langkah nyata, terutama peninggian akses jalan dan tanggul desa agar aktivitas masyarakat tidak terus lumpuh saat rob datang kembali.
Warga berharap masalah jalan maupun tanggul bisa ditinggikan sebagai langkah antisipasi banjir rob sekaligus membantu memulihkan perekonomian para pelaku usaha yang berada di kawasan tersebut. (*)






