Kadin Jatim Latih Fasilitator JOA, Kurikulum Vokasi Ditargetkan Lebih Selaras dengan Industri

oleh -208 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 04 at 12.19.02 PM
Kadin Jatim Latih Fasilitator JOA (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Upaya memperkecil kesenjangan antara lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja terus dilakukan. Salah satunya melalui pelatihan calon fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA) yang digelar Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim serta Kadin Institute di Surabaya pada 29 Juni hingga 3 Juli 2026.

Pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk menyiapkan tenaga fasilitator yang mampu menyusun analisis jabatan secara komprehensif sebagai dasar pengembangan kurikulum pendidikan vokasi berbasis industri. Dengan pendekatan ini, kurikulum diharapkan tidak lagi disusun dari sudut pandang lembaga pendidikan semata, melainkan berangkat dari kebutuhan riil dunia usaha dan dunia industri.

Senior Program Officer VET Development Swisscontact Ilham Hasbiullah mengatakan seorang fasilitator JOA harus mampu mengidentifikasi berbagai aspek pekerjaan, mulai dari tugas dan tanggung jawab, kompetensi yang dibutuhkan, persyaratan dasar, hingga perkembangan profesi di masa mendatang.

“Fasilitator nanti akan mampu mengembangkan analisis tentang sebuah okupasi yang menyangkut tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan, basic requirement, hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pekerja,” ujar Ilham di Surabaya, Sabtu (4/7).

Menurut Ilham, dokumen hasil Job and Occupational Analysis nantinya akan menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum pendidikan vokasi, mulai dari SMK, perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja. Dengan demikian, materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri.

Ia menilai selama ini proses penyusunan kurikulum umumnya masih dimulai dari institusi pendidikan, kemudian baru dikonsultasikan kepada industri. Pola tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab terjadinya skill mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Kalau kita ingin mengurangi skill mismatch, prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, kemudian hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri,” katanya.

Selain menjadi dasar penyusunan kurikulum, hasil JOA juga dapat digunakan untuk menentukan pembagian materi pembelajaran antara sekolah dan industri. Kompetensi yang dapat dipelajari di ruang kelas akan dipisahkan dengan kompetensi yang lebih efektif diperoleh melalui praktik langsung di perusahaan.

“Melalui JOA kita juga bisa menentukan kompetensi mana yang cukup diajarkan di sekolah dan kompetensi mana yang harus dipelajari langsung di industri. Ini akan memperkuat implementasi sistem pembelajaran ganda atau dual system,” jelasnya.

Pelatihan tersebut diikuti 10 peserta yang berasal dari kalangan industri, perguruan tinggi, dan pemerintah. Selama lima hari mereka mendapatkan materi mengenai metode JOA, teknik menggali informasi dari praktisi industri, penyusunan hasil analisis, hingga simulasi sebagai fasilitator.

Ilham mengungkapkan hingga saat ini tim pelaksana telah menyelesaikan sekitar 80 analisis JOA di berbagai sektor melalui kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan sejumlah mitra. Pelatihan bersama Kadin Jawa Timur ini menjadi yang pertama dilaksanakan di lingkungan Kadin sebagai upaya memperluas penerapan metode JOA.

Setelah menyelesaikan pelatihan dasar, para peserta masih akan menjalani pendampingan lapangan dengan melakukan analisis pekerjaan secara langsung bersama praktisi industri. “Kami berharap setiap penyusunan kurikulum pendidikan vokasi ke depan diawali dengan Job and Occupational Analysis. Dengan begitu kurikulum benar-benar bersifat demand driven, sesuai kebutuhan industri sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan siap memasuki dunia kerja,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan para fasilitator yang telah dilatih nantinya akan mendampingi perusahaan dalam berkolaborasi dengan sekolah, politeknik, maupun perguruan tinggi untuk menyelaraskan kurikulum.

Menurutnya, perkembangan kebutuhan industri, terutama di bidang teknologi informasi, berlangsung sangat cepat, sedangkan perubahan kurikulum di lembaga pendidikan membutuhkan proses yang relatif panjang.

“Kebutuhan industri berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu. Karena itu, pendampingan melalui fasilitator JOA menjadi solusi agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan dunia industri,” ujarnya.

Adik menambahkan harmonisasi kurikulum akan memberikan manfaat bagi dunia pendidikan maupun dunia usaha. Lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sementara program magang dapat berjalan lebih efektif karena materi pembelajaran telah diselaraskan sejak awal.

Melalui Kadin Institute, lanjutnya, Kadin Jatim juga akan mendampingi guru, dosen, dan pelaku industri dalam menyusun kurikulum berbasis kebutuhan dunia kerja.

“Kami menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya. Dengan 10 fasilitator angkatan pertama ini, kami optimistis sekitar 100 industri dapat dijangkau pada tahap awal sebelum program diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.