KabarBaik.co, Jember – Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan terus menata ulang strategi bisnisnya. Tidak lagi sekadar bertumpu pada komoditas karet dan penjualan biji kopi mentah (green bean), perusahaan milik daerah ini kini tengah gencar menyasar hilirisasi produk olahan kopi robusta yang memiliki cita rasa khas (special taste) guna memperluas pangsa pasar.
Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan PDP Kahyangan, Nyoman Aribowo mengungkapkan bahwa kopi robusta kini diposisikan sebagai identitas baru yang memperkuat pondasi bisnis perusahaan.
“Selain karet yang menjadi komoditas utama, penopang besar pendapatan kita saat ini berasal dari hasil tanaman kopi,” ujar Nyoman, Selasa (7/7).
Untuk mendongkrak daya tawar di pasaran, PDP Kahyangan bakal menyajikan beragam varian produk kopi. Nyoman menjelaskan, segmentasi produk akan dibagi mulai dari kelas reguler hingga kelas premium, tergantung pada karakteristik rasa dan kualitas hasil panen.
Langkah ini diambil agar robusta khas Kahyangan bisa menjangkau dan dinikmati oleh semua lapisan konsumen. Namun, Nyoman menekankan bahwa kualitas produk akhir yang premium sangat ditentukan sejak proses hulu di perkebunan.
“Kami ingin menciptakan produk unggulan dengan special taste. Kunci kualitas itu kami bangun sejak tahap budidaya, lalu diperkuat melalui standarisasi pengolahan pascapanen hingga menjadi produk siap konsumsi,” urainya.
Saat ini, PDP Kahyangan mengelola lima lokasi perkebunan, yaitu, kebun Sumber Pandan Kecamatan Sumberbaru, Gunung Pasang Panti, Sumber Tenggulun Tanggul, Sumber Wadung Silo dan kebun Kali Mrawan.
Dari kelima wilayah tersebut, sentra produksi kopi terbesar terkonsentrasi di Kebun Sumber Pandan dan Gunung Pasang, sementara area lainnya masih didominasi oleh tanaman karet.
Memasuki musim panen yang berlangsung dari Mei hingga September, produktivitas harian kebun-kebun ini mampu menyuplai antara 1 hingga 1,5 ton buah kopi. Dengan total luasan lahan kopi yang mencapai lebih dari 300 hektar, akumulasi hasil panen diproyeksikan bisa menembus angka di atas 100 ton kopi.
Untuk mendongkrak nilai jual, manajemen menerapkan SOP ketat berupa kewajiban petik merah. Langkah ini terbukti efektif mendongkrak nilai ekonomis komoditas di tingkat produsen.
“Kopi hasil petik merah harganya jauh lebih tinggi, bisa mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram. Sangat jauh perbandingannya jika dicampur atau dipanen acak yang harian pasarnya hanya di kisaran Rp55 ribu per kilogram,” beber Nyoman.
Guna memacu volume produksi harian, PDP Kahyangan melakukan perombakan besar pada tata cara tanam. Sistem tumpang sari antara kopi dan karet yang selama ini diterapkan mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, perusahaan kini menerapkan sistem monokultur pada blok lahan yang dikhususkan untuk tanaman kopi.
Nyoman memaparkan, evaluasi internal menunjukkan bahwa pohon karet yang sudah dewasa memiliki tajuk daun yang lebar, sehingga menghalangi pasokan sinar matahari yang sangat dibutuhkan oleh tanaman kopi di bawahnya. Akibatnya, produktivitas kopi menjadi tidak maksimal.
“Strategi kita sekarang adalah intensifikasi. Lewat sistem monokultur di lahan khusus ini, tanaman kopi bisa mendapatkan sinar matahari penuh sehingga produktivitasnya jauh lebih optimal,” tegasnya.
Nyoman menyebut bahwa serapan pasar terhadap robusta PDP Kahyangan sejauh ini sangat positif. Tantangan utama korporasi saat ini bukan lagi mencari pembeli, melainkan menjaga konsistensi suplai.
“Pasar (market) kami sebenarnya sudah sangat bagus dan stabil. Fokus utama manajemen sekarang adalah bagaimana melipatgandakan produktivitas kebun tanpa sedikit pun menurunkan kualitas hasil panen demi memenuhi permintaan yang terus melonjak,” tutup Nyoman.(*)






