KabarBaik.co, Jember – Harapan baru menghampiri Ny. Suwana, 72 tahun, seorang lansia sebatang kara yang tinggal di sebuah gubuk anyaman bambu berukuran 3×3 meter di Kecamatan Pakusari, Jember. Di tengah keterbatasan fisik akibat lumpuh dan buta, ia akhirnya mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah setempat pada Rabu (8/7).
Selama bertahun-tahun, kehidupan wanita kelahiran Juli 1954 ini sangat memprihatinkan. Jangankan beraktivitas, untuk buang air pun pihak keluarga harus membuatkan saluran khusus tepat di bawah ranjang bambunya agar ia tidak perlu beranjak. Tanpa suami dan anak, kelangsungan hidupnya sehari-hari murni bersandar pada kebaikan hati sepupu dan keponakannya yang rutin mengantarkan makanan.
Kondisi memilukan ini memicu kepedulian Aditya Algozalie, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Pakusari. Saat mengetahui Ny. Suwana belum memiliki KTP elektronik (KTP-el) yang menyebabkannya kesulitan mengakses bantuan sosial dan layanan kesehatan gratis Aditya langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan pihak kecamatan.
“Sangat miris melihat kondisi Bu Suwana. Beliau hidup sebatang kara, lumpuh, dan tidak bisa melihat. Selama ini kebutuhan makan minumnya hanya mengandalkan keponakan dan sepupunya,” ungkap Aditya.
Laporan tersebut langsung direspons secara sigap oleh Camat Pakusari, Riswandi. Tidak sekadar mengutus staf, Riswandi turun langsung ke lokasi bersama Bidan Desa Subo, Wiwik, untuk melakukan perekaman KTP-el secara jemput bola di pembaringan Ny. Suwana. Selain urusan administrasi, mereka juga membawa bantuan paket sembako.
Melihat realita di lapangan, Camat Rifandi langsung menginstruksikan langkah penanganan jangka panjang. “Kami meminta Bidan melakukan pemeriksaan medis secara berkala setiap bulan untuk memantau kondisi Ny. Suwana. Pemerintah kecamatan berkomitmen menyalurkan bantuan sembako rutin setiap tiga bulan sekali,” ungkapnya.
Aditya pun mengapresiasi gerak cepat jajaran kecamatan. Menurutnya, kehadiran birokrasi hari itu menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk menyentuh warga yang selama ini terisolasi dari pelayanan publik. Meski bantuan ini belum bisa menyembuhkan fisiknya, kehadiran petugas hari itu setidaknya membawa kehangatan dan kepastian bahwa ia tidak lagi sendirian dalam kesunyian. (*)






