Pasar Menggiurkan, Komoditas Karet Jember Jadi Rebutan hingga Sistem Lelang

oleh -201 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 08 at 11.32.02
Pengolahan karet di PDP Kahyangan Jember. (Foto: Aji)

KabarBaik.co, Jember – Komoditas karet terbukti masih menjadi primadona dan penopang utama pendapatan bagi Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 70 persen pendapatan badan usaha milik daerah ini bersumber dari sektor karet, sebuah fakta yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

“Karet ini sangat potensial. Kita tahu Indonesia merupakan eksportir karet terbesar kedua di dunia. Di Jember sendiri, melalui PDP Kahyangan, kita mampu memproduksi 1.000 ton karet setengah jadi setiap tahunnya,” ujar Direktur Produksi, Pemasaran dan Pengembangan PDP Kahyangan, Nyoman Aribowo, Rabu (8/7).

Tingginya kualitas dan potensi pasar membuat produk karet asal Jember ini menjadi rebutan para pembeli. Guna menyiasati tingginya permintaan dan mendapatkan harga terbaik, pihak PDP Kahyangan menerapkan sistem lelang dalam penjualannya.

“Kalau bicara pasar, ini menjadi rebutan. Kami menjualnya sampai sistem lelang karena pembeli saling bersaing. Sekali lelang, bisa ada 12 hingga 15 perusahaan yang ikut menawar,” jelasnya.

Dalam sistem lelang ini, perusahaan pemenang diwajibkan untuk membeli seluruh kelas atau grade karet yang diproduksi, mulai dari grade atas, bawah, hingga jenis sheet dan crepe. Sistem ini dinilai menguntungkan karena seluruh hasil produksi dapat terserap total dengan rincian harga yang kompetitif berdasarkan kategorinya.

Di tengah fluktuasi ekonomi global, penguatan mata uang dolar ternyata membawa angin segar bagi bisnis karet di Jember. Saat ini, harga rata-rata karet berada di kisaran Rp34.000 hingga Rp35.000 per kilogram, mengalami kenaikan signifikan dibanding sebelumnya yang berada di bawah Rp30.000.

“Dampak kenaikan dolar membuat kami hari ini bisa agak tersenyum lebih lebar. Untuk karet grade atas bahkan bisa menyentuh Rp 40.000 per kilogram, sementara untuk grade bawah berada di kisaran Rp 30.000 hingga Rp 33.000,” tambahnya.

Meski memiliki prospek pasar yang cerah, bisnis karet bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukanlah masalah produktivitas tanaman, melainkan pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil, khususnya tenaga penyadap karet.

PDP Kahyangan yang mengelola lima kebun—dengan fokus utama komoditas karet di Kebun Sumber Wadung (Silo), Kali Merawan, dan Sumber Tenggulun—mengakui bahwa penyiapan manajemen SDM menjadi pekerjaan rumah (PR) besar ke depan.

“Mau dikembangkan sebesar apa pun potensinya bisa, tapi kita harus siapkan manajemen SDM-nya. Ini menjadi PR kita bersama. Jika ada anak-anak muda yang berminat menjadi penyadap karet, kami siap untuk mendidik dan melatih mereka,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.