Prof. Nancy Margarita Rehatta, Pelopor Ilmu Nyeri di Indonesia yang Ubah Gejala Jadi Pengetahuan

oleh -1313 Dilihat
nancy
Prof. Rita saat menerima penghargaan

KabarBaik.co — Nama Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An-TI, Subsp.N.An.(K), Subsp.M.N.(K) mungkin sudah lama dikenal di kalangan dunia medis Indonesia. Dokter spesialis anestesi lulusan tahun 1981 yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen (UK) Petra ini bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga pelopor dalam bidang ilmu nyeri di Tanah Air.

Di saat banyak orang masih menganggap nyeri sekadar gejala, Prof. Rita—sapaan akrabnya—melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah ilmu tersendiri yang layak dikaji dan dikembangkan. Gagasannya itu kini menjadi pijakan penting dalam dunia kedokteran modern di Indonesia.

Atas dedikasi panjangnya, Prof. Rita baru-baru ini menerima penghargaan khusus dari Indonesian Society of Anaesthesiology & Pain Management (ISAPM) pada ajang ISAPM Awards 2025. Ia dianugerahi Kategori Khusus atas Dedikasi pada Ilmu Nyeri sekaligus Lifetime Achievement Award atas kiprahnya sebagai pelopor pengembangan ilmu nyeri di Indonesia.

“Penghargaan ini bukan hal yang saya kejar, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan panjang untuk memperkenalkan ilmu nyeri akhirnya diakui,” tutur Prof. Rita dengan senyum hangat, Selasa (7/10).

Penelitiannya yang monumental pada tahun 1999 berjudul “Pengaruh Pendekatan Psikologis Prabedah terhadap Toleransi Nyeri dan Respon Ketahanan Imunologik Pasca Bedah” menjadi penelitian pertama di Indonesia yang mengungkap hubungan antara aspek psikologis dan fisiologis dalam persepsi nyeri.

“Ilmu nyeri fokus pada keterlibatan berbagai fungsi tubuh, termasuk otak dan sistem emosi, dalam timbulnya rasa nyeri,” jelasnya.

Hasil penelitiannya itu kemudian menjadi dasar pengakuan resmi dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), yang memberikan Surat Tanda Registrasi (STR) dan izin praktik mandiri di bidang nyeri—sebuah tonggak penting bagi pengakuan disiplin ini di Indonesia.

Menurut Prof. Rita, tantangan terbesar dalam pengembangan ilmu nyeri di masa depan adalah mengubah cara pandang masyarakat dan tenaga medis.

“Nyeri bukan hanya gejala. Jika nyeri mengganggu, misalnya menyebabkan sulit tidur atau menurunkan kualitas hidup, maka itu harus ditangani oleh dokter ahli di bidang nyeri,” tegasnya.

Karena itu, ia menilai pentingnya sosialisasi dan pendidikan tentang ilmu nyeri melalui workshop serta integrasi dalam kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia.

Sebagai langkah nyata, Prof. Rita berharap UK Petra dapat memiliki Klinik Nyeri yang menjadi pusat unggulan baru kampus tersebut. Klinik itu, katanya, akan dibangun dengan manajemen terpadu lintas disiplin, melibatkan para ahli bersertifikat di bidang kedokteran dan psikologi.

“Klinik nyeri idealnya tak hanya memanfaatkan teknologi diagnostik dan terapi, tetapi juga membuka ruang konsultasi psikologis. Karena di balik rasa nyeri fisik, sering kali ada aspek emosional yang juga perlu ditangani,” pungkasnya penuh harap.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.