KabarBaik.co- Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil alamin. Selamat berulang tahun yang kedua, Kabar Baik. Suatu yang sangat membanggakan. Saya sebenarnya waktu kemarin-kemarin dinominasikan, saya bilang, sudah cukup lama tidak berkarier, ya agak ini juga.
Tapi akhirnya saya pikir, karena ini yang memberikan dengan itikad yang sangat jujur, karena beliau adalah sahabat saya, juga dari Gresik, maka saya tidak bisa, saya tidak punya alasan untuk menghindari.
Oleh karena itu, kesempatan ini Mas Hardy (Dirut KabarBaik.co, Red) dan teman-teman Kabar Baik yang selalu meliput kegiatan-kegiatan saya juga, saya terakhir kemarin ikut event dari Banyuwangi ke Ijen, juga diliput oleh teman-teman Kabar Baik. Jadi, itu yang menyemangati saya.
Dan seperti tadi disampaikan oleh MC, bahwa saat ini karena sejak dari dulu saya mengambil motto bahwa tidak ada namanya pensiun, jadi never be pensiun.
Teman-teman juga menanyakan, apa maksudnya never be pensiun? Maka, saya bilang, kalau saya tidak di Semen, ya mungkin saya ada di Pertamina, di SKK Migas, dan di tempat lainnya. Nah ketika itu semua mungkin sudah saya lewati, maka saya tetap tidak akan pensiun. Dan insya Allah saya akan mengabdi kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara melalui jalur lain.
Dan saat ini saya menjadi pengurus dari perguruan bela diri, silat, dan juga saya jadi wakil ketua umum di Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI), membantu beliau (Prabowo Subianto, Presiden RI, ketua umum IPSI, Red).
Dan yang lain tentu saja, saya bergerak ke bidang advising dan riset, saya mendirikan DS Research Center. Mudah-mudahan itu memberi manfaat. Dan tentu saja tidak akan bisa optimal DS Research Center kalau tidak ada Kabar Baik.
Terima kasih. Mungkin kita bisa kerja sama di masa depan untuk bangsa dan negara. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Itulah sambutan dari Prof (HC) Dr Ir Dwi Soejtipto, mantan Dirut PT Semen Indonesia, Dirut PT Pertamina, dan Kepala SKK Migas, seusai menerima Anugerah Sapta Aghita (ASA) 2025, kategori Lifetime Achievment-A Best Leader. Penghargaan diserahkan oleh Komjen Pol HM. Iqbal, Sekjen Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, di Surabaya, Jumat (31/10).
Hadir pula dalam penganugerahan ASA tersebut, Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto, Ketua Dewan Pakar Pesartuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Dr Dhimam Abror, Dewan Penasihat PWI Pusat Dr Agung Dharmajaya, Ketua PWI Jatim Lutfi L Hakim, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Selain itu, Gubernur Jatim yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sherlita Ratna Dewi Agustin, sejumlah pimpinan OPD Pemprov Jatim dan pemkab/pemkot, pejabat dari TNI-Polri, pimpinan organisasi profesi wartawan, beberapa perwakilan lembaga negara seperti Komisi Informasi, KPID, KPU, dan beberapa tokoh lainnya.

Makna Filosofis “Never Be Pensiun” ala Dwi Soetjipto
Sambutan Prof (HC) Dr Ir Dwi Soetjipto itu mungkin singkat, namun terkandung makna mendalam. Tidak hanya menjadi ungkapan terima kasih, melainkan juga refleksi hidup tentang makna pengabdian yang sejati. Kalimat kuncinya, never be pensiun, menjadi pesan moral yang dalam bagi siapa pun yang mendengarnya.
Bagi Dwi Soetjipto, pensiun bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk terus berbuat bagi masyarakat dan bangsa. Filosofi never be pensiun bukan berarti menolak istirahat, tetapi menolak berhenti berkarya. Ia ingin menegaskan bahwa selama seseorang masih memiliki kemampuan, pengetahuan, dan semangat, maka pengabdian kepada masyarakat tak pernah berhenti.
Prinsip ini terbukti dalam kiprahnya setelah tidak lagi memimpin korporasi besar seperti Semen Indonesia, Pertamina, atau SKK Migas. Pada 10 November ini, Dwi Soetjipto genap berusia 70 tahun. Namun, ia tetap aktif. Di antaranya, sebagai Wakil Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) dan mendirikan DS Research Center yang bergerak di bidang riset dan advising.
Bagi Dwi Soetjipto, itulah salah satu bentuk nyata melanjutkan pengabdian dengan jalur berbeda, namun dengan semangat yang sama. Memberi manfaat bagi bangsa dan negara.
Pernyataan bahwa DS Research Center “tidak akan bisa optimal tanpa Kabar Baik” juga menunjukkan kesadaran bahwa kolaborasi menjadi kunci sebuah pencapaian dan kemajuan. Sinergisitas antara dunia akademik, media, dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah harus berjalan seiring demi Indonesia yang lebih maju dan unggul.
Ia juga sempt menyinggung alasan dirinya bersedia menerima penghargaan, yaitu karena undangan datang dari sahabat yang ia percaya: “dengan itikad yang sangat jujur.” Dari sini tergambar nilai loyalitas, kejujuran, dan hubungan kemanusiaan yang dijunjung tinggi, bahwa penghargaan tidak semata soal prestise, melainkan juga soal niat tulus dan kepercayaan antarsahabat.
Sosok Dwi Soetjipto memberi teladan bahwa pemimpin sejati tidak berhenti pada jabatan. Ia terus menyalakan obor semangat agar generasi berikutnya memiliki nilai yang sama: tetap rendah hati, terus belajar, dan tiada henti mengabdi. Seperti yang tersirat dari ucapannya hari itu, pengabdian bukan soal masa aktif, tetapi soal hati yang tak pernah lelah untuk berbuat baik.
Selamat dan sukses selalu, Prof! (*)






