KabarBaik.co, Jakarta – Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai menyapu berbagai belahan dunia sepanjang Maret 2026. Dipicu eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS), harga minyak mentah dunia sempat meroket hingga USD 112 per barel. Situasi ini memaksa banyak negara menyesuaikan harga di pompa-pompa bensin mereka
Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu yang paling terdampak akibat ketergantungan pada impor minyak olahan. Vietnam, misalnya, mencatat kenaikan paling ekstrem. Harga solar melonjak lebih dari 105 persen sejak akhir Februari. Thailand dan Laos juga melaporkan kenaikan di atas 20 persen, yang mulai memicu inflasi pada sektor bahan pangan dan transportasi. Singapura kini mencatat harga bensin oktan 95 di kisaran 3,47 SGD (sekitar Rp 41.000) per liter, menjadikannya salah satu yang termahal di kawasan ini.
Sementara itu, meski berada di wilayah produsen, negara-negara Timur Tengah tidak imun terhadap gejolak ini. Mesir resmi menaikkan harga BBM hingga 30 persen bulan ini akibat membengkaknya biaya logistik di Laut Merah. Di Eropa, Spanyol dan Norwegia mencatat kenaikan harga solar hingga 35 persen, yang oleh para pengamat disebut sebagai “War Tax” atau biaya tidak langsung yang harus dibayar konsumen akibat risiko keamanan jalur laut.
Bagaimana nasib Indonesia Hingga pekan terakhir Maret, Indonesia masih berupaya “bertahan” di tengah badai kenaikan global. Pemerintah mengambil kebijakan berisiko dengan tidak menaikkan harga Pertalite (Rp 10.000) guna menjaga stabilitas ekonomi. Namun, penyesuaian tetap terjadi pada sektor nonsubsidi. Pertamax (RON 92) kini bertengger di angka Rp 12.300 – Rp 12.900 per liter tergantung wilayah, sementara jenis Dexlite dan Pertamina Dex mengalami kenaikan hingga Rp 1.000 per liter dibanding bulan lalu.
Sejumlah analis energi memprediksi bahwa jika gangguan Selat Hormuz terus berlanjut, harga minyak Brent bisa tetap bertahan di atas USD 100 per barel. Situasi ini memaksa banyak negara mulai menerapkan aturan darurat energi dan memprioritaskan pasokan domestik guna menghindari kelangkaan fisik di SPBU. Filipina menjadi negara pertama yang resmi mengumumkan darurat energi nasional. (*)






