KabarBaik.co- Apa yang dulu diprediksi cendekiawan muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur) tentang lahirnya gelombang profesor dari kalangan santri, kini menjadi kenyataan. Dua dekade setelah perkiraan itu, para santri yang dulu dikenal hanya menekuni kitab kuning sekarang menembus ruang akademik global. Dari Tokyo hingga New York, dari Yogyakarta hingga Canberra.
“Cak Nur melihat tren ini sejak 1990-an. Santri mulai masuk universitas umum dan belajar ilmu modern. Kini ramalan itu menjadi realitas. Kita melihat generasi santri yang menulis jurnal ilmiah, tapi tetap membaca Ihya’ Ulumuddin,” ujar Prof Dr Nadirsyah Hosen PhD, Guru Besar Hukum Islam di Monash University, Australia, dalam unggahannya di X dilihat Rabu (22/10).
Menurut Nadirsyah, gelombang baru akademisi santri ini menandai babak baru Islam Indonesia: inklusif, ilmiah, dan spiritual. “Mereka bukan hanya profesor, tapi juga jembatan antara dunia pesantren dan sains modern,” katanya.
Kini, nama-nama santri menghiasi dunia akademik internasional: Salahudin Kafrawi mengajar filsafat di Amerika Serikat, Etin Anwar menulis tentang feminisme Islam, Ismail Fajrie Alatas menjadi dosen di New York University, dan Eva Nisa meneliti antropologi Islam di Australia.
Di bidang sains, muncul figur seperti Muhammad Azis, profesor Energy and Process Integration Engineering di Jepang; Hendro Wicaksono, profesor Data-Driven Industrial Systems di Jerman; serta Bakhtiar Hasan, ahli Biostatistika di Belgia.
Gelombang yang sama juga tampak di tanah air. Ada Burhan Muhtadi, pakar survei dan Guru Besar FISIP UIN Syarif Hidayatullah; Agus Zainal Arifin, ahli informatika di ITS; hingga TB Ace Hasan Syadzily, santri-akademisi yang kini menjabat Gubernur Lemhannas.
Bagi Gus Nadir, panggilan Prof Nadirsyah Hosen, fenomena tersebut bukan sekadar soal gelar akademik. “Ini tentang lahirnya generasi Islam Indonesia yang berpikir universal tapi tetap berakar spiritual. Mereka bisa bicara epistemologi sambil bershalawat sebelum mengajar,” ujarnya.
Tak berhenti di ruang kampus, para santri juga menembus ranah budaya: menulis novel, menyutradarai film, hingga menggelar konser jazz di kompleks Candi Prambanan. “Lompatan sejarah. Santri sekarang menulis dengan akal, tapi juga dengan hati. Mereka adalah penerus Cak Nur dan Gus Dur dalam bentuk yang lebih global,” pungkasnya. (*)







