Dari Pesantren ke Galeri: Nabila Hadirkan 99 Kiai sebagai Guru Laku Bangsa

oleh -23 Dilihat
GUS DUR

KabarBaik.co- Menyambut Hari Santri 2025, seniman muda Nabila Dewi Gayatri menghadirkan pameran tunggal bertajuk “Guru Laku” yang memvisualisasikan nilai-nilai kedewaguruan pesantren dalam 99 karya drawing wajah para Kiai.

Pameran ini digelar di Galeri DKS Balai Pemuda Surabaya mulai 18 hingga 25 Oktober 2025, dan akan dibuka secara resmi oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz, ketua PWNU Jawa Timur sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, pada Sabtu malam (18/10) pukul 19.00 WIB.

Pameran ini terselenggara atas kerja sama NDG Art Gallery, PWNU Jawa Timur, Lesbumi NU, dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Dalam pernyataannya, Nabila menjelaskan bahwa tema “Guru Laku” berangkat dari refleksi spiritual dan historis tentang peran para Kiai sebagai pewaris tradisi kedewaguruan di Nusantara — tradisi pendidikan yang menekankan harmoni antara ilmu, moral, dan laku spiritual.

“Saya tidak sekadar menggambar potret Kiai, tapi berusaha menampilkan mereka sebagai Guru Laku — sosok yang mengajarkan etika, adab, dan kebijaksanaan hidup,” ujar Nabila.

Sebanyak 99 drawing yang dipamerkan terinspirasi dari Asmaul Husna, melambangkan sifat-sifat Ilahi yang termanifestasi dalam keteladanan para Ulama. Tokoh-tokoh yang diabadikan di antaranya adalah Kiai Ali Manshur, pencipta Shalawat Badar, serta para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama.

Nabila menuturkan, konsep kedewaguruan memiliki akar sejarah panjang sejak masa Majapahit hingga lahirnya sistem pesantren pada masa Demak. Tradisi itu bermula dari para resi dan guru spiritual yang hidup zuhud, kemudian bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang memadukan ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

“Nilai luhur ini sudah tumbuh sejak era Mataram kuno hingga Majapahit akhir. Saat Islam berkembang di pesisir utara, sistem pendidikan itu dilanjutkan oleh para Wali dan Kiai sebagai Guru Laku bangsa,” jelasnya.

Melalui pameran ini, Nabila mengajak publik untuk meneladani para Ulama dan menjaga tradisi kedewaguruan sebagai fondasi moral bangsa.

“Dengan memandang wajah-wajah mulia para Kiai, semoga kita bisa meresapi ajaran dan keteladanan mereka. Mereka hidup bukan hanya di masa lalu, tapi juga di dalam hati kita,” ungkapnya penuh harap.

Seperti tahun sebelumnya, pameran ini juga melibatkan akademisi dan seniman seni rupa, yakni Dr Agung Tatto MSn. sebagai pendisplay karya dan Dr Mikke Susanto MSn. sebagai penulis kuratorial.

Pameran “Guru Laku” bukan sekadar peristiwa seni, melainkan ruang kontemplasi — tempat publik belajar mengenal kembali makna menjadi manusia beradab, sebagaimana para Kiai menuntunkan: lewat ilmu, laku, dan cinta. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.