Hari Lahir Pancasila: Menghidupkan Roh 1 Juni dari Pelataran Desa Balun Lamongan

oleh -77 Dilihat
BALUN PANCASILA
Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, ini menjadi satu contoh toleransi dan kebinekaan seperti nilai-nilai luhur Pancasila. (Foto IST)

KabarBaik.co, Lamongan- Senin, 1 Juni 2026, seluruh penjuru negeri kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum sejarah ini selalu membawa ingatan kembali pada rangkaian peristiwa krusial di tahun 1945. Sebuah fase penting saat para pendiri bangsa berdebat secara intelektual demi merumuskan fondasi filosofis bagi Indonesia merdeka.

Akar sejarah bermula dari Sidang Pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Tepat pada tanggal 1 Juni 1945, Ir Soekarno menyampaikan pidato legendarisnya secara lisan tanpa teks di hadapan forum Gedung Chuo Sangi In. Untuk kali pertama, Bung Karno memperkenalkan lima asas dasar negara yang secara resmi dinamakan “Pancasila”.

Gagasan visioner Soekarno tersebut langsung diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota sidang. Rumusan awal itu kemudian dimatangkan Panitia Sembilan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, hingga akhirnya disahkan secara konstitusional dalam Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945.

Secara legal-formal, pengakuan negara terhadap signifikansi historis ini dikukuhkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016. Lalu, 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional yang berlaku sejak tahun 2017. Kebijakan itu bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat senantiasa memperingati, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Nah, di tengah riuh seremonial menyambut Hari Lahir Pancasila itu, esensi sejati dari dasar negara itu juga telah mewujud sejumlah lapisan masyarakat, Termasuk di kampung-kampung. Salah satu di antaranya di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Kampung itu terletak hanya sekitar satu kilometer dari poros Jalan Raya Surabaya-Babat, desa dengan luas 621,103 hektare ini telah lama mengakar dalam kesadaran publik dengan julukan karib sebagai “Desa Pancasila”.

Di desa ini, Pancasila tidak lagi sekadar teks hafalan dalam buku-buku sekolah atau untaian sejarah masa lalu. Pancasila di Desa Balun disebut sudah seperti denyut nadi toleransi dan kebinekaan beragama yang terjaga dengan sangat baik. Hebatnya lagi, keharmonisan umat beragama yang mengagumkan ini telah berlangsung rukun dan damai selama lebih dari setengah abad.

Keharmonisan yang membumi itu tergambar jelas secara kasat mata melalui tata ruang unik di pusat desa. Tiga tempat ibadah dari keyakinan yang berbeda berdiri anggun mengelilingi lapangan desa. Posisinya pun hanya berjarak sepelemparan batu, atau sekitar 200 meter saja dari bangunan balai desa setempat.

Masjid Miftahul Huda yang biasa digunakan warga Muslim berdiri kokoh di sebelah barat lapangan. Hanya terpisah jalan lingkungan selebar empat meter, berdiri Pura Sweta Maha Suci yang merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu. Sementara itu, bangunan Gereja Kristen Jawi Wetan berdiri tepat 70 meter menghadap ke arah barat di depan masjid.

Kedekatan fisik bangunan ini merefleksikan kedekatan hati warganya yang dihuni oleh 3.498 jiwa pemeluk Islam, 672 jiwa pemeluk Kristen, dan 266 jiwa pemeluk Hindu.

Toleransi di kampung ini mewujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Ketika umat Kristen merayakan Natal atau umat Hindu menggelar ritual keagamaan di pura, misalnya, pengurus takmir masjid secara sadar memilih untuk tidak membunyikan pengeras suara luar untuk qiroah. Mereka langsung mengumandangkan azan demi menghormati tetangga yang sedang khusyuk beribadah.

Akar kedamaian yang kokoh di Desa Balun ini mampu bertahan lama karena sekat-sekat teologis selalu luruh oleh eratnya ikatan darah dan silsilah kekeluargaan. Sejarah mencatat bahwa eksistensi agama Kristen dan Hindu di desa ini mulai tumbuh pasca-peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Saat itu pemerintah menganjurkan penduduk untuk memeluk agama resmi yang diakui oleh negara.

Sejak masa itulah, perbedaan keyakinan disikapi warga dengan penuh kedewasaan. Bahkan dalam satu dinasti keluarga besar atau di bawah satu atap rumah, sangat lumrah dijumpai adanya anggota keluarga yang menganut Islam, Kristen, dan Hindu sekaligus. Uniknya, jalinan kekerabatan ini juga mengikat para pemuka agamanya. Ketua takmir masjid, pemangku pura, dan pemuka jemaat gereja saat ini sebenarnya masih berada dalam satu garis hubungan keluarga dan kerabat.

Nilai-nilai luhur Pancasila ini terus dihidupkan dan diwariskan secara organik kepada generasi muda milenial setempat. Ketika hari raya Idul Fitri tiba atau saat salat tarawih di bulan Ramadan, para pemuda Kristen dan Hindu akan dengan sukarela bersiaga menjaga ketertiban serta keamanan parkir jemaat masjid.

Sebaliknya, saat Natal tiba, pemeluk Islam dan Hindu akan diundang dan turut membantu kelancaran acara. Begitu pula ketika umat Hindu mengadakan upacara keagamaan, warga muslim dan Kristen tidak akan tinggal diam untuk ikut menyukseskan acara. Kebersamaan ini bahkan tetap terjaga erat dalam momen kedukaan, di mana seluruh warga tanpa memandang agama akan bahu-membahu membantu keluarga yang sedang berduka.

Di ranah birokrasi pemerintahan desa, kebinekaan itu juga mewujud secara inklusif. Dari sepuluh orang perangkat desa yang bertugas di balai desa, dua di antaranya adalah pemeluk agama Kristen, sedangkan sisanya beragama Islam. Pembagian peran yang adil ini menjadi bukti bahwa kompetensi dan pengabdian di Desa Balun berdiri di atas semua golongan.

Sekitar 60 persen dari total penduduk Desa Balun saat ini menggantungkan hidupnya sebagai petani tambak tradisional. Meski zaman terus berganti dan banyak generasi mudanya kini memilih beralih profesi atau merantau ke luar daerah, mereka tidak pernah lupa pada petuah para sesepuh kampung. Nilai persaudaraan telah telanjur melekat erat di dalam sanubari mereka.

Swetiap momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, dari sebidang tanah di Lamongan, Desa Balun kembali mengirimkan pesan kuat dan aktual bagi semua. Desa ini menjadi satu  bukti hidup bahwa urusan sosial dan gotong royong adalah milik bersama, sedangkan keyakinan adalah urusan masing-masing individu dengan Sang Pencipta.

Selamat Hari Lahir Pancasila!

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.