Rantai Pasok Terancam, Gejolak Timur Tengah Jadi Titik Kritis Ekonomi Global

oleh -173 Dilihat
IMG 20250705 WA0013
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono.

KabarBaik.co – Meski konflik Timur Tengah mulai mereda, ancaman terhadap stabilitas rantai pasok global belum sepenuhnya reda.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono menilai situasi ini sangat rentan dan berpotensi memicu krisis lanjutan yang berdampak langsung terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

“Gencatan senjata kadang hanya bersifat sementara. Sewaktu-waktu bisa kembali memanas, dan ketika itu terjadi, dampaknya bukan cuma regional, tapi juga global,” ujar Sebastian saat dikonfirmasi pada Sabtu (5/7).

Menurutnya, eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel merupakan sinyal serius bagi pelaku usaha di seluruh dunia. Selain ancaman militer, strategi tekanan ekonomi dari pihak-pihak yang terlibat juga patut diwaspadai. Salah satunya adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilintasi sekitar sepertiga distribusi minyak dunia.

“Kalau Selat Hormuz ditutup, harga minyak langsung melonjak. Dampaknya sangat besar. Bukan hanya maritim, tapi juga industri dan distribusi barang bisa terguncang,” katanya.

Situasi ini juga berdampak pada operasional logistik. Perusahaan pelayaran kini harus menghitung ulang risiko, termasuk menyesuaikan nilai asuransi kapal yang otomatis naik, serta membicarakan ulang polis asuransi. “Biaya freight pasti ikut naik. Ini masalah nyata dalam rantai pasok,” tegasnya.

Indonesia pun, menurut Sebastian, tidak kebal dari dampak ini. Gangguan pada impor barang dari Eropa dan Amerika Serikat menjadi hal yang sangat mungkin terjadi. Bahkan, ia mencatat sudah ada beberapa shipping yang memilih berhenti atau menunda keberangkatan, seiring dengan terhentinya sejumlah penerbangan sipil ke kawasan Timur Tengah.

“Perang yang berkepanjangan hanya akan memperpanjang penyumbatan rantai pasok. Akibat lainnya adalah perlambatan ekonomi. Lihat saja Israel, mereka defisit USD3,22 miliar pada Mei 2025. Ekspornya turun, sementara impor naik,” urai Sebastian mengutip data dari Economic Trading.

Ia menekankan, ketika logistik terganggu, masyarakat yang paling terdampak. Harga kebutuhan konsumsi melonjak, distribusi barang tersendat, dan pada akhirnya memperburuk daya beli.

“Kita tentu berharap konflik tidak berkepanjangan. Kalau terus memanas, siapa yang diuntungkan? Rakyat jelas jadi korban. Pemerintah negara-negara yang terlibat juga akan lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk belanja militer ketimbang pembangunan,” jelasnya.

Sebastian menutup pernyataannya dengan peringatan tegas: saat ini rantai pasok bukan hanya soal distribusi logistik, melainkan telah menjadi arena pertarungan geopolitik yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi titik krisis baru.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.