KabarBaik.co – Di bawah terik matahari Kemayoran, Suderajat, 49, hanya berharap lembaran rupiah dari tiap potong es gabus warna-warni yang dijualnya. Dan, hasil dari penjualan es itu bisa menyambung hidup keluarganya.
Namun, hari itu (24/1) kejujurannya justru dibayar dengan lebam dan air mata. Bapak paruh baya ini tidak hanya kehilangan dagangannya, tapi juga dipaksa menelan harga dirinya di depan umum.
Suderajat, hanya “wong cilik”. Sebatas mencoba mengadu nasib di pojok ibu kota Namun, ia tentu tak menduga akhirnya menjadi korban salah sasaran. Dituduh menjual es berbahan spons hanya karena tekstur tepung hunkwe yang elastis. Ironisnya, tanpa bukti ilmiah, kekerasan fisik menjadi jawaban. Ditendang hingga dipaksa memakan dagangannya sendiri oleh oknum yang seharusnya memberikan rasa aman.
“Ditendang pakai sepatu boots, ditendang, disuruh bangun lagi, bangun lagi,” cerita Suderajat dalam sebuah video yang viral belakangan ini.
Kisah pilu Suderajat ini pun memicu gelombang simpati meluas. Termasuk dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Melalui akun X pribadinya, Susi tak mampu menutupi rasa prihatinnya. Dia langsung memention akun resmi Kapolri sembari menyematkan emotikon menangis, sebuah simbol duka mendalam bagi rakyat kecil yang teraniaya saat sedang berjuang hidup.
Dari informasi yang dihimpun, belakangan hasil lab es gabus itu bersih. Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya memastikan es tersebut aman dan layak konsumsi. Tekstur kenyal tersebut adalah sifat alami bahan es gabus tradisional.
Meski permintaan maaf telah disampaikan, Suderajat kini dihantui ketakutan untuk kembali memanggul dagangannya. Reaksi publik menyoroti betapa mudahnya kekerasan terjadi pada mereka yang tidak memiliki kuasa, hanya berdasarkan asumsi yang keliru.
Kini, Suderajat tampaknya berdiri di persimpangan trauma. Di satu sisi harus terus memberi makan keluarga, di sisi lain, jalanan yang biasa disusuri ternyata menggoreskan luka. Mendslam.
Dalam perkembangannya, kabarnya Suderajat mendapat “tali asih” motor dan modal. Tapi, kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa bagi sebagian orang, sekadar bekerja baik-baik pun bisa menjadi pertaruhan nyawa. (*)






